Yang Penting Gizi Seimbang, Bukan

Kamis, 09 November 2017 - 09:02 WIB
Ilustrasi
RIAUMANDIRI.co-Kita telah mengenal jargon 4 sehat 5 sempurna jauh sebelum kita benar-benar belajar formal tentang makanan sehat di bangku sekolah. Slogan 4 sehat 5 sempurna ini dipopulerkan oleh guru besar ilmu gizi pertama di Indonesia, Prof. Poerwo Soedarmo pada tahun 1950-an lalu.
 
Dalam konsep 4 sehat 5 sempurna, makanan sehat adalah makanan yang mengandung 4 sumber nutrisi yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayur-sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan dengan susu.
 
Sejak tahun 1990-an pedoman 4 sehat 5 sempurna ini dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi. Hingga kemudian, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan akhir bulan Oktober lalu mengkampanyekan slogan "Isi Piringku" sebagai pengganti slogan "4 Sehat 5 Sempurna" untuk pedoman konsumsi sehari-hari dalam memenuhi gizi seimbang.
 
"Dulu kita punya slogan 4 Sehat 5 Sempurna, namun dalam perkembangan ilmu gizi tidak cukup tepat untuk mengakomodir perkembangan ilmu yang baru. Kalau hanya bicara 4 Sehat 5 Sempurna tanpa keseimbangan itu tidak cukup," kata Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono dalam konferensi pers acara Forum Pangan Asia Pasifik.
 
Secara umum, "Isi Piringku" menggambarkan porsi makan yang dikonsumsi dalam satu piring yang terdiri dari 50 persen buah dan sayur, dan 50 persen sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein.
 
Kampanye "Isi Piringku" juga menekankan untuk membatasi gula, garam, dan lemak dalam konsumsi sehari-hari. Dalam perkembangan ilmu gizi yang baru, pedoman "4 Sehat 5 Sempurna" berubah menjadi pedoman gizi seimbang yang terdiri dari 10 pesan tentang menjaga gizi.
 
Dari 10 pesan tersebut, Anung mengelompokkan lagi menjadi empat pesan pokok yakni pola makan gizi seimbang, minum air putih yang cukup, aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, dan mengukur tinggi dan berat badan yang sesuai untuk mengetahui kondisi tubuh.
 
Selain diagram "Isi Piringku" yang telah disebutkan, kampanye tersebut juga menekankan empat hal penting lainnya yaitu cuci tangan sebelum makan, aktivitas fisik yang cukup, minum air putih cukup, dan memantau tinggi badan dan berat badan.
 
Rio Jati Kusuma, dosen departemen gizi dan kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, kepada Tirto menyatakan bahwa konsep 4 sehat 5 sempurna dulu dicanangkan dalam rangka membuat rekomendasi diet sehat untuk masyarakat Indonesia. 
 
Karena saat itu standar menu sehat masih belum ada acuannya, dibuatlah konsep 4 sehat 5 sempurna, yang bertujuan mengenalkan bahwa di dalam piring minimal harus terdapat sumber karbohidrat, protein, dan lemak dari makanan pokok, sayur, lauk hewani, lauk nabati dan susu sebagai pelengkapnya.
 
Rio Jati merasa konsep ini kurang pas bila diterapkan saat ini karena ketiadaan standar dalam penentuan jumlah setiap bahan makanan pada konsep 4 sehat 5 sempurna. Akibatnya, setiap orang bisa saja menafsirkan menu yang mereka makan dalam porsi dan kadar yang beraneka macam, asal telah memenuhi syarat 4 sehat lima sempurna: makanan pokok, lauk pauk, sayur-sayuran, buah-buahan, dan disempurnakan dengan susu.
 
“Dampaknya adalah peningkatan jumlah konsumsi lemak dan energi yang berpotensi menyebabkan obesitas dan kegemukan. Karena jumlahnya yang tidak standard, karena masing-masing individu bisa menafsirkan secara beragam,” jelasnya kepada Tirto.
 
Sementara itu, kasus obesitas pada anak Indonesia mulai menjadi perhatian banyak pihak. Hal ini dikarenakan tingginya prevalensi obesitas di Indonesia. 
 
C.N. Rachmi, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dan pemerhati kesehatan anak di Children's Hospital at Westmead, University of Sydney Clinical School, Sydney, dalam penelitiannya yang berjudul "Overweight and Obesity in Indonesia: Prevalence and Risk Factors" yang dipublikasikan 2017, menyatakan bahwa dari seluruh negara di Asia Tenggara, prevalensi obesitas di Indonesia adalah yang paling tinggi.
 
Data Riset Kesehatan Nasional 2016 diketahui bahwa 20,7 persen penduduk dewasa Indonesia mengalami kegemukan. Data World Health Organization (WHO) pada 2013 menunjukkan hampir 12 persen anak Indonesia mengalami obesitas. Jika dirinci lagi, dari 17 juta anak yang mengalami obesitas di ASEAN, hampir 7 jutanya berasal dari Indonesia. Angka ini hanya mencakup balita. 
 
Obesitas pada anak dapat terjadi karena faktor keturunan, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan. Pola makan tentu terkait dengan kadar nutrisi yang dikonsumsi setiap harinya yang dapat dilihat dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia telah diatur dalam Peraturan Menkes RI Nomor 75 tahun 2013.
 
Anjuran kisaran sebaran energi gizi makro (AMDR) bagi penduduk Indonesia dalam estimasi kecukupan gizi ini adalah 5-15 persen energi protein, 25-35 persen energi lemak, dan 40-60 persen energi karbohidrat. Penerapannya tergantung umur atau tahap pertumbuhan dan perkembangan.
 
Yang Penting Gizi Seimbang, Bukan \share infografik
 
Sebagai penggambaran pemenuhan gizi sekali makan, Rio Jati mencontohkan susunan menu per piring berupa 2 centong rice cooker nasi sejumlah kira-kira 100 gram, sayur bening bayam 100 gram, jeruk 1 buah, dan ikan goreng bagian badan 1 potong.
 
Rio Jati juga mengungkapkan bahwa memasukkan susu sebagai makanan "sempurna" bukan hal yang tepat dalam diet orang Indonesia.
 
“Susu memang diketahui memiliki kualitas protein yang baik, namun dalam kadar tertentu susu juga berpotensi menimbulkan beberapa masalah bagi kesehatan. Bila diberikan pada anak balita dapat meningkatkan risiko anemia dan alergi, sedangkan pada dewasa [dengan] intoleransi laktosa, bisa menyebabkan diare,” kata Rio Jati.
 
Ia mengatakan telur, daging atau ikan yang merupakan lauk hewani adalah bahan substitusi susu yang baik.
 
Untuk komposisi menu gizi seimbang sebetulnya sudah dicanangkan dalam program Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS). Dalam pedoman terdapat informasi mengenai berapa porsi buah, sayur, lauk hewani, nabati dan sumber karbohidrat yang dibutuhkan manusia setiap harinya.
 
Rio Jati mengatakan pedoman PUGS juga menjelaskan banyak hal, termasuk pentingnya aktivitas fisik untuk mencegah kegemukan.
 
“PUGS itu komplit. Tapi karena terlalu lengkap, jadi masyarakat susah menghafalnya. Jadi, salah satu alternatifnya, pemerintah mungkin melakukan kampanye ‘Isi Piringku’ dalam rangka mengejawantahkan PUGS,” pungkas Rio.(van)
 
 
 
 
Sumber : Tirto.com

Editor:

Terkini

Terpopuler