Jalur Sumbar-Riau Masih Dialihkan ke Kiliran Jao

Senin, 06 Maret 2017 - 07:39 WIB
Gubri Arsyadjuliandi Rachman meninjau jalan lintas Riau-Sumbar yang terputus di Tanjung Balit, Pangkalan, Sumatera Barat, Sabtu akhir pekan kemarin.

PEKANBARU (riaumandiri.co)-Hingga Minggu (5/3) siang, arus kendaraan menuju Sumatera Barat, masih dialihkan menuju Kuantan Singingi-Kiliran Jao. Hal itu disebabkan ruas jalan lintas Riau-Sumbar yang melalui Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, masih rusak akibat banjir dan longsor yang terjadi pada Sabtu akhir pekan kemarin.

Menurut informasi, hingga saat ini, tim gabungan masih fokus membersihkan material longsor, mengevakuasi warga yang terjebak, serta memperbaiki badan jalan yang amblas.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, Nasriyanto, pihaknya masih bergerak membersihkan material longsor yang menimbun jalan. Sedangkan untuk jalan amblas, terus diupayakan semaksimal mungkin.

"Untuk jalan yang tertutup longsor sebagian sudah dibersihkan dan bisa dilewati, untuk jalan amblas sedang kita upayakan," ujarnya.

Informasi di lapangan, petugas di sana kini tengah menimbun jalan amblas ini agar dapat dilewati kembali, sehingga akses dua provinsi yakni Riau-Sumbar dapat terhubung kembali. Mereka antara lain BPBD, Basarnas, TNI, Polri dan relawan.

Sementara itu, Kepala Satlantas Polres Kampar, AKP Mas'ud Ahmad mengungkapkan, pihaknya masih memberlakukan pengalihan arus, baik itu dari Kampar ke Sumbar maupun sebaliknya melalui Kuantan Singingi-Kiliran Jao.

"Masih terputus, kan jalan amblas ya, kita masih berlakukan pengalihan. Hari ini Direktur Lalu Lintas Polda Riau akan meninjau rute ini sampai ke PLTA Koto Panjang," ujarnya.

Parahnya bencana longsor dan banjir ini memberi dampak pada delapan kecamatan dan 13 Nagari di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar. Antara lain Pangkalan, Kapur XI, Mungka, Harau, Payakumbuh, Lareh Sago Halaban, Sulikik dan Empat Barisan.

Sejauh ini sudah lima korban jiwa atas musibah tersebut, yang terjadi pada 3 Maret 2017 kemarin. Ada delapan mobil yang tengah melintas di jalur lintas Riau-Sumbar ikut terseret material longsoran.

Antisipasi Harga
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau Siti Astiyah berharap adanya koordinasi antara pemerintah Sumbar mau pun Riau. Tujuannya untuk mencegah naiknya harga pangan akibat perilaku para spekulan yang mencoba memanfaatkan kondisi ini. Hal itu mengingat hampirsebagian besar pasokan pangan di Riau, disuplai dari Sumbar.

"Kita minta pemerintah di Provinsi Sumatera Barat dan Riau lebih meningkatkan koordinasi, sehingga harga pangan jangan sampai naik," ujarnya, Minggu kemarin di sela-sela acara penukaran uang baru NKRI di Halaman GOR Tribuana.

Kepada masyarakat, Asti juga meminta jangan sampai kondisi ini dijadikan untuk mencari kesempatan menumpuk, menimpun bahan pangan, sehingga harganya menjadi naik. "Meski akan berpengaruh, jangan berpersepsi longsornya jalan serta merta menaikkan harga barang," ingatnya.

Asti mengakui, dampak putusnya jalur distribusi pangan sehingga berpengaruh terhadap harga, disebabkan oleh tiga hal. Pertama berapa stok pangan, berapa hari bisa diperbaiki dan berapa kebutuhan perharinya. Misalnya saja stok beras Riau seperti dirilis Bulog cukup untuk enam bulan.

"Sehingga tidak ada alasan karena jalan rusak akibat banjir, lalu harga beras naik," ulas Asti lagi.

Jalan Putus

Sehari sebelumnya, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman sempat mendarat di jalan lintas Sumbar yang putus. Tepatnya di Pangkalan, Kabupaten Lima puluh Kota, Sumatera Barat.

"Perlu untuk diketahui, jalan yang putus Sumbar-Riau itu ada di wilayah Sumatra Barat tepatnya di Tanjung Balik. Antara Tanjung Pauh ke Pangkalan. Itu jalan putus terbawa arus sungai yang deras, itu jaraknya sekitar 30 meter. Sekarang sedang dikerjakan Balai Jalan Wilayah Sumbar," jelas Gubri.

Dijelaskan Gubri, pihak Sumbar sampai saat ini masih terus menggesa penyelesaian penimbunan jalan yang terputus. Untuk longsor yang terjadi di wilayah Tanjung Balik telah selesai dibersihkan. Untuk selanjutnya masyarakat yang terjebak di antara longsor sudah bisa melanjutkan perjalanan, dengan berbalik ke arah Pekanbaru.

"Yang longsor sudah selesai dibersihkan, jadi tidak ada lagi desa yang terisolir. Bagi warga yang dari Sumbar bisa memutar ke Kiliran Jao, begitu juga yang dari Riau juga melewati Kuansing kalau mau ke Sumbar," jelas Gubri. (nie, nur, grc)

Editor:

Terkini

Terpopuler