Dalam Buaian Asap

Jumat, 04 September 2015 - 09:45 WIB
Ilustrasi

Entah apalah jadinya Bumi Lancang Kuning saat ini. Sejak sepekan terakhir, kabut asap yang meyelimuti hampir seluruh wilayah Provinsi Riau, semakin hari semakin tebal, semakin mengkhawatirkan. Bahkan di beberapa daerah, kondisi udara sudah sampai pada level berbahaya.


Aktivitas sekolah di beberapa daerah juga lumpuh total, karena tak mungkin membiarkan siswa  mempertaruhkan kesehatan mereka karena harus belajar di tengah kepungan asap tebal, yang jelas-jelas merusak kesehatan. Tak hanya sektor pendidikan, aktivitas penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru juga mengalami kelumpuhan hingga beberapa jam.
Semakin parahnya kondisi kabut asap, bisa dirasakan saat kita mengendarai kendaraan. Di Kota Pekanbaru, meski berkendara di siang hari, sama ibarat menyelami lautan asap. Gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di jantung Kota Bertuah, tampak tak lagi megah, karena terlihat samar dalam selimut asap.
Miris, masyarakat seolah dipaksa menghirup udara yang tidak sehat.
Yang terbaru, tentu saja kejadian naas yang dialami 47 orang siswa di Kabupaten Kampar. Mereka sampai pingsan karena mengalami gangguan pernafasan. Tentu saja hal itu akibat mereka 'dipaksa' menghirup kabut asap. Intinya, kejadian ini seharusnya sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan lagi, betapa berbahayanya kabut asap bagi kesehatan masyarakat.
Pertanyaannya, apakah kondisi seperti ini akan terus dibiarkan. Apakah aparat penegak hukum dan pemerintah masih akan menunggu lagi, hingga muncul lagi korban-korban lain akibat kabut asap ini. Tentu saja tidak mungkin. Yang harus diingat, hampir semua pihak sepakat bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Bumi Lancang Kuning saat ini, sebenarnya disengaja. Atau dengan kata lain, kuat dugaan, yang terjadi saat ini adalah pembakaran hutan dan lahan secara massal, yang diduga dilakukan pihak-pihak tertentu yang ingin mendapat keuntungan pribadi. Sayangnya, hal itu sampai menimbulkan kerugian yang tak sedikit bagi masyarakat luas.
Menarik kiranya pernyataan Danrem 031/WB Brigjen Nurendi, yang meminta aparat penegak hukum untuk bertindak lebih tegas lagi. Harapan serupa, sebenarnya sudah sering diungkapkan pihak lain, khususnya masyarakat Riau yang prihatin dan peduli lingkungan hidup.  
Apa yang terjadi saat ini di Kabupaten Kampar, sebenarnya adalah sebuah tamparan yang begitu besar bagi kita masyarakat Riau. Kejadian ini, seharusnya membuat kita semua, mulai pemerintah, aparat penegak hukum dan masyarakat Riau secara keseluruhan, membuka mata dan hati, bahwa kejahatan lingkungan berupa pembakaran hutan dan lahan memang sudah tidak ditolerir lagi. Apalagi terhadap pelaku yang melakukan kejahatan ini karena ingin mendapatkan keuntungan secara pribadi.***

Editor:

Terkini

Terpopuler