Pantainya Cantik, Sayang Aksesnya Rusak

Pantainya Cantik, Sayang Aksesnya Rusak
RIAUMANDIRI.CO, BENGKALIS - Momen liburan sekolah, Natal dan Tahun Baru dimanfaatkan sebagian orang jalan-jalan ke lokasi wisata. Bagi yang berkantong agak tebal, mereka biasanya berlibur ke luar kota seperti ke Sumbar, pulau Jawa, Malaysia atau minimal ke Pekanbaru.
 
Bagi orang tua yang memiliki “persediaan terbatas”, cukuplah mereka mengajak anak-anak mengunjung atau bermain di tempat-tempat rekreasi yang ada di pulau ini saja, seperti bermain ke pantai Selatbaru, Parit II Pambang Pesisir atau ke Pantai indah Teluk Lancar.
 
Sayangnya, untuk lokasi pantai Parit II Pambang Pesisir dan Teluk Lancar, pengunjung  bukan hanya tidak menemukan sentuhan pembangunan di dua pantai tersebut, tapi juga kondisi jalan menuju pantai yang rusak dan memprihatinkan.
 
“Anak-anak sudah cukup gembira diajak bermain atau mandi-mandi di pantai, sayangnya sebelum sampai ke pantai kami harus berjibaku dengan kondisi jalan yang hancur-hancuran, baik kondisi di Pambang Pesisir maupun di Teluk Lancar,” sebut Fadli warga Bengkalis, Kamis (4/1/2018).
 
Sejatinya kata Fadli, pantai Teluk Lancar menyimpan pesona yang luar biasa. Pantai landai berpasir tersebut jauh lebih indah dibanding dengan pantai Selatbaru. Pohon-pohon bakau masih hidup dengan subur di tebing pantai, selain itu pantai Teluk Lancar juga sangat panjang, hingga ke pantai Sekodi Kecamatan Bengkalis.
 
“Kalau saja jalan menuju ke Pantai Teluk Lancar bagus, dan dibangun sarana pendukung lainnya di sekitaran pantai, saya yakin akan banyak warga Bengkalis dan sekitarnya akan datang berkunjung,” ujar Fadli.
 
Apalagi kata Fadli, saat musim liburan akhir tahun lalu, pantai Teluk Lancar “dikunjungi” spesies makanan laut nan lezat, kerang. Selain berkunjung, warga juga bisa mencari sambil membawa pulang kerang.
 
Senada dengan Fadli, Firdaus juga mempertanyakam grand disign Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam membangun dua pariwisata. Sejatinya kata Fadli, untuk lokasi atau tempat-tempat yang sudah memiliki daya tarik, harus ada grand disign jangka panjang seperti apa pengembangan objek wisata itu ke depan.
 
“Banyak hal yang bisa diberdayakan, selain pembangunan infrastruktur penunjang pengembangan wisata, pemerintah juga bisa membedayakan masyarakat tempatan. Bisa dalam bentuk penyiapan kuliner bagi pengunjung atau pun hal-hal lain yang bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung,” sebut Firdaus.
 
Sudah saatnya Pemeritah memikirkan bagaimana mencari dan mengggali serta meningkatkan pendapatan asli daerah, karena tidak bisa hanya mengandalkan dana bagi hasil migas yang suatu saat akan habis.
 
“Pariwisata adalah salah satunya. Tapi terus terang kami belum melihat upaya ke arah itu, tengok saja mau ke pantai Rupat Utara jalannya juga hancur-hancuran, bagaimana mau mengembangkan wisata pantai lainnya. Grand disign yang paling penting, tapi kalau kerjanya setengah-setengah ya hasilnya juga setengah atau bahkan tak sampai setengah,” papar Firdaus.
 
Reporter:  Usman
Editor:  Rico Mardianto