Riau

Subsidi untuk Rakyat, Tapi Susah Didapat

Unggahan di akun facebook anggota DPRD Rohul, Nono, memuat foto mobil angkutan BBM sedang terparkir di pinggir jalan, diduga menjual BBM secara ilegal
RIAUMANDIRI.CO, PASIR PENGARAIAN - Dua item barang bersubsidi oleh Pemerintah, yakni gas LPG 3 kilogram dan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium, hingga kini masih sulit didapatkan masyarakat.
 
Misalnya, gas LPG. Meski penyalurannya sudah diatur secara ketat oleh Pemerintah, dengan menunjuk para agen untuk penyaluran, disertai syarat menunjukkan kartu keluarga dalam transaksi jual beli, namun ketersediaan gas LPG di tempat agen sering kosong.
 
Fenomena ini tentu menjadi tanda tanya di tengah masyarakat. Bagaimana mungkin Provinsi Riau, yang terkenal dengan kekayaan alamnya, “di atas minyak di bawah minyak” yang artinya di atas bumi ada kelapa sawit yang menghasilkan minyak dan di bawah tanah ada gas bumi yang dikelola, ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan rakyat.
 
“Sudah keritis kali negara kita ini. Beli gas elpiji saja, selain harganya mahal mencapai Rp45 ribu per tabung, itupun harus pakai kartu keluarga. Katanya Riau ini kaya minyak, minyak di atas minyak di bawah, tapi rakyatnya beli gas LPG 3 Kg saja susah dan mahal,” keluh Yanto (47) warga Pasir Pengaraian kepada Riaumandiri.co, Minggu (17/12).
 
Diceritakan Yanto, untuk mendapatkan gas LPG 3 Kg, keluarganya terpaksa membeli di warung dengan harga mahal. Sementara kalau beli di agen, meski harganya murah yakni Rp25 ribu per tabung, tapi harus menggunakan kartu keluarga, dan itupun belum tentu dapat.
 
“Inilah susahnya, mau makan saja harus pakai kartu keluarga. Kalau beli di warung mahal. Sementara kalau beli di agen harus pakai kartu keluarga. Apalagi kondisi saat ini, boro-boro beli gas Rp45 ribu, beli beras aja susah,” beber Yanto, seraya berharap suara rakyat ini didengar Pemerintah.
 
Subsidi lainnya seperti BBM jenis Premium juga mengalami hal yang sama, yakni sulit didapatkan. Mulai pukul 15.00 WIB ratusan kendaraan roda dua dan roda empat sudah stanby di SPBU menunggu kedatangan mobil angkutan BBM yang dijadwalkan akan tiba sekitar pukul 17.30 WIB.
 
Bagi pemilik kendaraan roda dua yang tidak sabar menunggu antrian, meski dengan harga mahal, terpaksa mengisi tangki kendaraannya dengan BBM jenis Pertamax. Dan sebagian besar kendaraan roda 4 ada yang antri menunggu giliran hingga larut malam, itupun kalau premiumnya tak habis.
 
“BBM jenis premium ini seharusnya tidak boleh kosong dan tidak perlu antri di SPBU, karena premium ini salah satu sarana penunjang bagi kehidupan masyarakat. Soalnya yang membutuhkannya ada tukang becak, penjual tahu, penjual bakso keliling, atau lainnya yang menggunakan sepeda motor. Kalau kami pedagang kecil ini diarahkan ke Pertamax, apa tidak rusak ekonomi kami,” keluh Suprianto, salah seorang pedagang bakso keliling saat ditemui di SPBU Pasir Pengaraian, Minggu (17/12).
 
Semantara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Rohul, Drs. H.Sariaman, MSi saat dihubungi melalui telepon selulernya belum bisa dikonfirmasi.
 
Namun begitu, sesuai pernyataan Kadis sebelumnya saat dikonfirmasi awak media belum lama ini menjelaskan, bahwa pada tanggal 1 Desember lalu 2017, Pertamina tidak menyalurkan sebesar 12 ribu tabung LPG 3 Kg ke 7 agen resmi yang ada di Rohul.Hal ini berdampak menipisnya ketersediaan LPG di sejumlah kecamatan, sehingga memicu terjadinya kelangkaan.
 
"Dari hasil koordinasi kita dengan pihak pertamina, tidak disalurkanya LPG 3 Kg pada 1 desember itu dengan alasan saving kuota (penghematan kuota) agar suplai LPG tetap terjaga hingga akhir tahun," jelas Sariaman.
 
Total LPG yang nantinya akan dipasok pertamina sebanyak 2800 tabung. Pasokan tersebut nantinya akan disalurkan untuk  5 kecamatan yang mengalami kelangkaan cukup parah, seperti kecamatan Rambah, Kepenuhan, Kepenuhan Hulu, Kunto Darussalam dan Kecamatan Tambusai Utara.
 
Selain itu, agar penyaluran tepat sasaran, Disperindag Rohul menghimbau kepada pangkalan untuk memberlakukan syarat KK dan KTP untuk menjamin pasokan LPG memenuhi kebutuhan masing-masing daerah. Disperindag juga telah mengeluarkan surat edaran dan spanduk agar pangkalan menjual LPG 3 Kg sesuai harga het yang sudah ditetapkan dalam Perbup.
 
"Kita juga himbau, LPG 3 Kg bersubsidi diperuntukan untuk masyarakat kurang mampu serta usaha kecil menengah yang berpenghasilan 1 juta perhari. Jadi, untuk masyarakat yang mampu kita minta untuk tidak menggunakan LPG 3 kg," imbaunya.
 
Lewat dunia maya, sebuah informasi mengejutkan di akun facebook salah satu anggota DPRD Rohul, Nono Patria menyebutkan “Mobil pengakut BBM dari Depo Pertamina Dumai ke SPBU, melakukan tindakan bongkar muatan (pencurian) di jalan petapahan-simp TB Rohul. Kejadian sering terulang. Seperti teroganisir,” tulisnya.
 
Diakhir postingannya ia menyampaikan “Agar menjadi perhatian Pertamina dan pihak berwajib”tulisnya sambil mengapload beberapa foto mobil angkutan BBM dengan nomor plat yang jelas, sedang terparkir di pinggir jalan,” tambah anggota dewan tersebut. 
 
Reporter: Agustian
Editor: Nandra F Piliang


Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Loading...

Tulis Komentar