Tuding Karlahut Timbul karena Kebiasaan Orang Melayu

Pernyataan Danlanud Sangat Disesalkan

Mardiansyah

BENGKALIS (riaumandiri.co)-Pernyataan Komandan Komandan Lapangan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Marsekal Pertama Hendri Alfiandi yang menyalahkan kebiasaan orang Melayu terhadap adanya Karlahut di Riau. Pernyatan tersebut sangat disesalkan karena terkesan memojokkan orang Melayu.

 “Apakah seluruh pelaku pembakar lahan dan hutan di Riau ini adalah orang Melayu,” tanya tokoh Muda Bengkalis, Mardhiansyah, kepada sejumlah wartawan, Sabtu (19/3).

Mardhiansyah yang juga tercatat sebagai salah seorang dosen ini mengungkapkan, budaya Melayu dalam membuka dan berbersihkan lahan teraktualisasikan dalam pola "perladangan berpindah" yang saat ini sudah tidak berlangsung lagi praktek tersebut. Saat praktek perladangan berpindah zaman dulu berlangsung, dampak resiko kebakaran berupa pekatnya kabut asap tak separah saat ini.

“Secara teori keilmuan, pembakaran terkendali dibenarkan dan bermanfaat untuk pembukaan lahan penyiapan tanam.  Berbeda sekarang, yang terjadi adalah "pembakaran yang ditinggal pergi," ujar Mardhiansyah seraya berharap kepada siapapun,  jika tak mampu hadirkan bahagia, usahlah menambah perihnya luka.

Menurut Mardhiansyah,  sebenarnya praktek perladangan berpindah tidak hanya dilakukan oleh puak Melayu, tapi oleh hampir semua suku bangsa di peradabannya. Sangat tidak elok dan tidak patut menghubungkaitkan kejadian kebakaran dengan menumpahkan pangkal mulanya derita ini pada tabiat suatu kaum yang tak seutuhnya betul tanpa usul periksa yang utuh.

“Inilah mungkin fenomena negeri yang sedang "kalut"  banyak ungkap asal sebut. Risau pada janji yang sudah terucap namun tiada tertunai nyata. Maka saling salah dan lempar tanggung untuk sekedar jawab,” tuturnya seraya berharap, kejadian ini menjadi ikhtibar bagi semua untuk lebih santun dan bijak dalam bersikap serta bertutur.

Sebelumnya diberitakan, Komandan Lapangan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Marsekal Pertama Hendri Alfiandi menyalahkan kebiasaan orang Melayu dalam membuka lahan. Dia menegaskan, membakar sewaktu membuka lahan merupakan budaya masyarakat Riau yang mayoritas Melayu.

"Kita sedang berusaha memadamkan kebakaran, tiba-tiba ada yang mensomasi pemerintah daerah dan pusat. Ini maksudnya apa? Saya terus terang saja ini tidak memberikan contoh yang baik," katanya, Jumat (18/3) di Lanud Roesmin Pekanbaru.

Hendri juga menyentil sejumlah LSM dan LAM Riau yang melakukan gugatan. Menurut dia, seharusnya LSM dan LAM Riau turut membantu mencegah terjadinya Karhutla dengan memberikan sosialisasi ke masyarakat.

"Jangan malah saling menjatuhkan seperti ini," ujarnya kesal. Dia juga meminta LSM dan LAM Riau yang mengajukan gugatan ke Pengadilan Pekanbaru sekali-kali mengunjungi Satgas Karhutla Riau di Lanud Roesmin Nurjadin.

"Sekali-kali kesinilah, lihat bagaimana kita semua bekerja berusaha memadamkan kebakaran. Terutama kepada LAM Riau sebagai pemangku adat yang dituakan. Seharusnya, bisa bekerja sama menanggulangi Karhutla," lanjutnya. (man)


[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar