Setelah Makan Nasi Berkat

51 Warga Inhu Keracunan

sejumlah korban diduga keracunan makanan dirawat di Puskesmas Pangkalan Kasai, Kecamatan Siberida.

RENGAT(riaumandiri.co)-Wajah Syifa Nursina Karin, tampak pucat saat dirawat di Puskesmas Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida, Indragiri Hulu, Jumat (4/3).

Bocah berusia 3,5 tahun itu adalah satu dari 51 warga Desa Burluh Rampai, Kecamatan Seberida, yang menjadi korban keracunan makanan.

Dugaan sementara, mereka semua keracunan makanan dari sebuah kenduri yang digelar di rumah Manto, warga setempat. Makanan yang dimaksud adalah nasi berkat yang dibawa warga desa itu, usai menghadiri kenduri tersebut.

Hingga Jumat kemarin, warga yang menjadi korban keracunan makanan tersebut masih dirawat di sejumlah tempat. Selain di Puskesmas Pangkalan Kasai, korban lain dirawat di Rumah Sakit Indrasari Rengat dan klinik swasta di Seberida.

Menurut orangtua Syifa, Zainuri (38), pada Rabu (2/3) malam, dirinya pulang dari kenduri tetangganya dengan membawa nasi berkat yang memang sudah menjadi tradisi warga setempat jika menggelar hajatan.
"Saya beserta istri dan dua anak memakan nasi tersebut. Di dalamnya ada potongan ayam, peyek, sayur dan tempe.

51 Warga
 Sementara anak yang bungsu sudah tidur saat itu," jelas Zainuri.

Namun keesokan harinya, perutnya tiba-tiba terasa sakit. Tidak hanya dirinya, kondisi serupa juga dialami istri serta abang Syifa. Sementara itu, Syifa sendiri bahkan muntah-muntah disertai diare. Kondisi itu terus berlanjut hingga malam hari.

"Karena sudah lemas, akhirnya pada malam sekitar pukul 20.00 WIB, saya bawa ke Puskesmas Pangkalan Kasai dan ternyata harus langsung dirawat karena kami sudah kekurangan cairan yang cukup banyak. Ternyata tidak kami saja, sudah banyak juga tetangga lainnya yang berada di Puskesmas. Semua penyakitnya sama,"  terangnya.

Sementara itu, warga lainnya, Ahmad (23), mengaku juga hadir dalam kenduri tersebut. Ia juga membawa nasi berkat itu saat pulang ke rumah. Namun yang memakannya adalah Lestari (21), istrinya.
"Saya tidak ikut makan nasi itu karena di tempat kenduri sudah makan sate dan hidangan lainnya," ungkap Ahmad.

Sementara istri Ahmad yang memakan nasi berkat tersebut juga harus dirawat karena mengalami keracunan. Ketika dikunjungi Jumat kemarin, Lestari masih muntah-muntah dan kepalanya pusing disertai demam. "Masih terasa sakit kali di perut ini dan juga kepala, makan pun sulit," ujar Lestari.

Tak hanya warga, kondisi serupa juga dialami tuan rumah, yakni Wulan (35) dan Heni (39) yang merupakan satu di antara tujuh tukang masak pada acara kenduri tersebut. keduanya juga harus diinfus karena mendapatkan gejala yang sama dengan korban lainnya karena mengonsumsi makanan yang sama.

"Saya yang masak langsung semua makanan tersebut dibantu enam orang dan semuanya merupakan keluarga, tidak ada orang lain. Kalau terkait bumbu, semuanya juga dibuat sendiri. Kecuali untuk sate memang kami pesan sama orang lain, namun yang memakan sate tidak ada yang terkena sakit ini," ulas Heni.

51 Orang
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Indragiri Hulu, Suhardi, menyatakan, hingga Jumat pagi kemarin, total warga yang menjadi korban keracunan tersebut berjumlah 42 orang. Namun pada siang hari, bertambah lagi sembilan orang sehingga total hingga pukul 16.00 WIB, korban dugaan keracunan makanan tersebut mencapai 51 orang.

"Empat orang sudah bisa pulang, dua lagi harus dirujuk ke Rumah Sakit Indrasari Rengat, satu di antaranya anak-anak usia 3 tahun dan satu lagi dalam keadaan hamil. Sedangkan satu orang berada di klinik Kasih Ibu Rengat yang merupakan ibu menyusui dan satu warga lagi berada di klinik Fajar Buluh Rampai," terangnya.

Dokter spesialis kandungan RSUD Indrasari Rengat, Dr Nurhadi mengungkapkan terkait pasien korban keracunan dan dalam keadaan hamil yang dirawat di RSUD, tidak ada permasalahan apapun terhadap kandungannya. "Ia hanya mengalami diare dan Alhamdulillah, tidak ada pengaruh terhadap janin yang dikandungnya," ujarnya.

"Kami sudah turunkan tim Penyelidik Epidimiologi (PE) dan mereka sudah mengambil sampel muntah dan Buang Air Besar (BAB) korban, untuk kemudian akan dilakukan penelitian untuk mengetahui pasti penyebab pasti sakit yang dialami oleh para korban tersebut, ditambah lagi nantinya akan turun tim dari Provinsi Riau," ungkap Suhardi.***


Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar