BNPB Pastikan tidak Ada Tsunami

Gempa Mentawai, Masyarakat Panik

Gempa Mentawai, Masyarakat Panik

PADANG (riaumandiri.co)-Gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Kepulauan Mentawai dan sekitarnya, Rabu (2/3) pukul 19.49 WIB. Episentrum gempa berada di 682 kilometer barat daya Mentawai, Sumatera Barat, pada kedalaman 10 kilometer.

Tak ayal, kondisi itu membuat masyarakat menjadi panik, menyusul adanya peringatan tsunami dari pihak pemerintah.
Namun beberapa jam kemudian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan tidak ada tsunami setelah menerima laporan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa peringatan tsunami telah dicabut.

Gempa Tidak hanya itu, gempa bumi susulan dengan kekuatan 5,2 SR, kembali terjadi pada pukul 23:08 WIB.
Lokasi gempa berada di 3.75 Lintang Selatan, 95.71 Bujur Timur atau berjarak 440 km Barat Daya Kepulauan Mentawai, dengan kedalaman 198 kilometer. Sama dengan gempa sebelumnya, pergerakan bumi ini juga tak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dari pantauan Haluan di Kota Padang, awalnya gempa tersebut sempat membuat kaget masyarakat Kota Padang. Hentakannya memang tak sedahsyat saat gempat yang terjadi 30 September 2009 lalu, yang saat itu kekuatannya mencapai 7,9 SR. Karena itu, banyak masyarakat memilih berada di luar rumah atau bangunan sembari menunggu getaran gempa berakhir.

Tapi, tiba-tiba suasana jadi tak terkendali menyusul informasi dari media nasional dan BMKG, yang menyebutkan gempa tersebut berpotensi tsunami. Masyarakat Padang langsung ambil ancang-ancang mengevakuasi diri dengan persiapan seadanya, baik dengan kendaraan, maupun jalan kaki.

Hanya saja, tak semua warga yang panik. Sebagian lagi tetap bertahan di sekitar kediamannya, seperti yang tampak di kawasan Air Tawar, Mapalam dan beberapa tempat lainnya. Selain itu, sebagian warga lainnya ada juga yang memanfaatkan sejumlah shelter yang sudah disiapkan pemerintah.

“Kami masih bertahan di sini di dekat rumah. Tapi di sini macet total. Kendaraan tak bergerak,” kata Ridho, warga Marapalam.

Kemacetan lalu lintas terjadi di sepanjang jalan di Kota Padang terutama arah Simpang Lubuk Begalung (Lubeg) By Pass menuju arah ketinggian Indarung. Kondisi serupa juga terjadi di Jalan Ahmad Dahlan, Gajah Mada dan Ampang. Masyarakat Kota Padang berusaha menyelamatkan diri dan keluarga menggunakan kendaraan masing-masing. Kepanikan warga tersebut membuat kemacetan panjang dan sesaat kendaraan tidak bergerak.

Salah seorang pengendara sepeda motor yang saat kemacetan terjadi menuturkan ingin menuju ke arah ketinggian seperti kawasan Indarung karena ingin menyelamatkan diri. Usaha tersebut ia lakukan karena tersebar isu bahwa gempa berpotensi tsunami.

Begitu juga dengan sejumlah hotel-hotel di Kota Padang yang berada dekat dengan pantai, semua pengunjung hotel sudah berhamburan keluar. Seperti di Premier Basko Hotel, Hotel Ina Muara, Bumi Minang dan Axana Hotel terlihat pengunjung sudah berada di luar hotel karena guncangan gempa.
General Premier Basko Hotel Roby Wiryawan menuturkan bahwa sesaat terjadi gempa pengunjung hotel panik dan langsung berlarian keluar berusaha menyelamatkan diri.
"Sempat panik dan berhamburkan keluar, sesaat pengunjung berada di luar hotel. Namun hingga satu jam ke depan keadaan kembali normal dan sudah aman," katanya.


Kembali Tenang
Situasi baru kembali tenang, setelah Polisi datang dengan mobil penerangan dan memberitahukan kepada masyarakat, kalau pemerintah telah mencabut peringatan tsunami. Selanjutnya polisi langsung menyuruh warga kembali ke rumah masing-masing.

Dari Jakarta, Kepala BNPB, Willem Rampangilei, juga menegaskan bahwa kondisi di Sumatera Barat, termasuk daerah lain di sepanjang pantai, yakni Sumatera Utara, Bengkulu dan Lampung, terbilang aman. Dari laporan petugas di wilayah tersebut, tidak mungkin terjadi tsunami.

"Kondisi terakhir kami pastikan aman dan tidak mungkin terjadi tsunami," ujarnya.

Dia mengatakan, saat ini, petugas dari Badan Penganggulangan Bencana Provinsi dan TNI Sumatera Barat belum menerima adanya laporan kerusakan.

"Berdasarkan assesment saat ini BPBD Sumbar dan TNI menyatakan belum ada laporan kerusakan dari masyarakat. Warga di sekitar pesisir Sumatera Barat mengatakan gempa dirasakan lemah," ujarnya.

Meski memastikan kondisi saat ini terbilang aman, Willem menegaskan bahwa peringatan dini tsunami diserahkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). "Untuk pencabutan peringatan dini tsunami itu wewenang BMKG," kata Willem.


Lari ke Bukit
Sementara itu, aksi serupa juga dilakukan masyarakat Mentawai, yang lokasinya paling dekat dengan sumber gempa. Mereka langsung berlarian menuju perbukitan di kawasan itu.

Salah seorang warga Kepulauan Mentawai, Roza mengatakan, ia dan keluarga bersama warga lainnya langsung menuju ke kawasan pegunungan, tak lama setelah gempa terjadi.

"Kami sudah mengungsi jam 20.00 WIB. Katanya gempanya 8,3 skala richter, kemudian ada isu tsunami. Awalnya kami belum mau pergi, tapi setelah dapat informasi dari masjid semuanya naik ke atas bukit. Makanya kami sekarang ada di atas bukit," kata Roza.

Roza juga mengatakan, listrik mati tak lama setelah gempa dan peringatan tsunami terjadi. "Semoga semuanya aman-aman saja," kata Roza.

Dari Pasaman Barat, tempatnya Nagari Sasak, walinagari setempat Arman mengatakan warga yang tinggal di sekitar laut, yakni Kecamatan Sasak Ranah, Pasisia, langsung mengungsi ke Simpang Empat dan di seluruh masjid diumumkan, agar warga mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi, karena ada peringatan tsunami dari BMKG.

Selain itu, kata Kepala Jorong Pulau Panjang, warga yang ada di Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas dan warga yang berada di Pulau Panjang, berkumpul di bukit yang ada di pulau tersebut.

Pemkab Pasbar sudah menurunkan BPBD ke Sasak dan Air Bangis melakukan pemantauan potensi tsunami. Untuk kerusakan akibat gempa hingga berita ini diturunkan belum ada laporan yang masuk, baik kepada Haluan maupun pemda setempat.

Wakil Gubernur Sumbar Drs H Nasrul Abit yang dihubungi terpisah mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan pihak terkait seperti BPBD, TNI dan Polri serta unsur lainnya. Kami, kata Nasrul Abit lagi, saling berkoordinasi dengan unsure pemerintah di bawah untuk mengetahui kondisi dan tindakan yang akan diambil.

Untuk Mentawai sendiri, Bupati Pessel dua periode ini mengatakan mereka sudah bisa berkoordinasi dengan pemerintahan setempat. Lewat sambungan radio karena sarana komunikasi seluler macet total, Nasrul Abit menyebut ia sudah mendapat kabar tak ada kerusakan yang berarti akibat gempa ini, termasuk korban jiwa.

“Seluruh warga yang tadinya mengungsi, sudah kami anjurkan untuk pulang karena tepat pukul 22.15 WIB, BMKG sudah mengakhiri status potensi tsunami atas gempa. Barusan, pak Danrem juga berkomunikasi dengan salah satu Danramil di Mentawai,”kata Nasrul Abit lagi.(h/mat/win/dka/hel/nov/ndi)