Pengalaman Aliran Gafatar

Penghulu Bandar Pedada Minta MUI Turun ke Kampung

ilustrasi

SIAK (riaumandiri.co)-Penghulu Bandar Pedada Nazar mengaku kehilangan warganya yang mengikuti aliran Gafatar. Awalnya dirinya simpati dan mendukung organisasi Gafatar masuk ke kampungnya. Kegiatan sosialnya sangat menyentuh masyarakat dan manfaatnya dirasakan masyarakat.  

"Mereka melakukan gotong royong, membersihkan tempat ibadah dan lain-lain, bahkan saya sangat terbantu oleh organisasi Gafatar karena mereka menyumbangkan darahnya buat keluarga saya yang waktu itu kritis dan membutuhkan darah, dan menurut saya waktu itu organisasi Gafatar yang punya persatuan yang kuat," kata Nazar, Kamis (11/2).

 Kegiatan Gafatar yang sangat menyentuh, kese
tiaan dan rela berkorban bagi anggota Gafatar yang bergabung, sehingga tanpa disadari harta, keluarga dan lain-lain mereka tinggalkan demi memperjuangkan misinya.

"Setelah MUI menyatakan aliran Gafatar sesat, baru disadari Gafatar yang saya kenal baik ternyata mengikuti aliran paham Abraham Linkon yang menyesatkan. Bayangkan, pernikahan Bagas Kara pengurus Gafatar dikampung ini, biaya pernikahanya sama warga sini kami biayai, baik kendaraan dll, ternyata orang yang kami percaya justru membuat geger Kabupaten Siak kususnya Kampung Bandar Pedada," ungkapnya.

 Dirinya waktu itu mengantar Siti Aisah ke Kantor Gafatar Pekanbaru, dan setelah itu tidak tahu kabarnya. Namun  tiba-tiba pihak keluarga mendatangi penghulu dan menanyakan anaknya belum pulang sampai saat ini.

Sebagai penghulu berharap kepada MUI agar turun ke kampung-kampung mencari dan mempertanyakan gerakan yang mengatas namakan Islam sejati dan lain-lain yang saat ini banyak masuk di kampung-kampung. Dirinya sendiri binggung ketika mereka minta izin mengadakan kegiatan-kegiatan sosial dan zikir bersama.

Ketika ditanya, kelompok-kelompok aliran paham yang masuk di kampungnya? Penghulu menjawab banyak kelompok-kelompok aliran paham  yang masuk di kampungnya.

"Saat ini bukan Gafatar saja yang masuk, termasuk kelompok aliran paham lain yang mengaku kelompoknya yang paling benar. Dan dikampung ini juga sudah ada kelompok yang memakai cadar, pakai hijab panjang, pakai kaos kaki dan  kelompok ini kurang bermasyarakat.

"Harapan kami, kepada tokoh agama, pemuda bisa menerima kembali warga kami yang pernah bergabung dengan Gafatar, karena itu masalah moril. Jangan sampai mereka merasa terasing di kampungnya sendiri," pungkasnya. (gin)


Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar