50 Warga Riau Eks Gafatar Tiba di Pekanbaru

50 Warga Riau Eks Gafatar  Tiba di Pekanbaru

PEKANBARU (haluanriau.co)-Sebanyak 50 orang warga Riau eks anggota Gerakan Fajar Nusantara alias Gafatar, akhirnya tiba di Pekanbaru, Senin (8/2) sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Mereka ditampung di kompleks rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di Jalan Mekar Sari, Bukit Raya. Selanjutnya, mereka akan diinapkan di tempat itu selama beberapa hari, untuk diberi pembinaan. Setelah itu, barulah mereka dibawa kembali ke daerah asal.   


50 Warga
Para warga Riau eks anggota organisasi yang dinyatakan terlarang itu dibawa dari Jakarta dengan menggunakan pesawat Batik Air, ID 6845.

Menurut Kepala Dinas Sosial (Disos) Riau, Syarifuddin, warga eks Gafatar tersebut terdiri dari 17 orang laki-laki, 15 perempuan dan 18 anak-anak. Mereka berasal dari sejumlah daerah, seperti Pekanbaru sebanyak 40 orang, Indragiri Hulu 2 orang, Kampar 7 orang dan Kota DUmai satu orang.

Setelah diinapkan selama lebih kurang satu minggu dan mendapatkan pembinaan serta pendampingan. Eks Gafatar ini selanjutnya dipulangkan ke daerah masing-masing. "Tugas daerah lagi yang akan melanjutkan pembinaan," tambahnya.

Selama berada di kompleks rusunawa tersebut, mereka akan diberikan pembinaan. Baik dari Dinas Sosial, Kesbangpolinmas, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau.

Diterangkannya, awalnya jumlah warga Riau yang akan dipulangkan sebanyak 135 orang. Namun setelah didata, cukup banyak di antara mereka yang langsung dijemput keluarga di Jakarta. Sehingga mereka yang bisa dibawa pulang Pemprov Riau sebanyak 50 orang.

"Sesuai prosedur, pihak keluarga yang datang menjemput juga didata. Bahkan dimintai keterangan hingga sidik jari mereka. Agar nantinya mereka tidak kembali lagi dan dijamin pihak keluarga masing-masing," terangnya, Senin (9/2).

Syarifuddin menambahkan, tidak mudah bagi pihaknya memulangkan warga eks Gafatar tersebut. Pasalnya, masih ada beberapa pentolan mereka yang berusaha menahan supaya mereka tidak dipulangkan. Alasannya macam-macam, mulai dari harta yang sudah tidak ada, hingga ketakutan akan ditempatkan di mana.

"Jadi kita harus bujuk dulu. Pentolannya dipisahkan supaya yang lain tidak terpengaruh. Ada tiga pentolannya, dua kita tinggalkan satu kita bawa, dengan berbagai alasan, mereka menolak,"'ungkap Syarifuddin.

Sementara itu, Direktur Intelijen dan Keamanan (Dir Intelkam) Polda Riau, Kombes Pol Djati Wiyoto Abadhy, mengatakan, selama berada di Rusunawa tersebut, mereka akan dijaga aparat dari Polda Riau dan Polresta Pekanbaru, serta petugas Disos Riau.

Di tempat itu, warga eks Gafatar tersebut ditempatkan di 50 unit rumah. Fasilitas di bekas wisma atlet PON Riau tersebut terbilang mencukupi, baik listrik maupun air. Sehingga, mereka dapat melakukan kegiatan sehari-hari.

Sebelumnya diberitakan, Pemprov Riau merencanakan akan membawa pulang sebanyak 135 warga Riau eks Gafatar melalui jalur darat, dengan menyiapkan sebanyak empat unit bus. Namun karena banyaknya keluarga eks Gafatar yang mengambil keluargnya, jumlah warga Riau yang dipulangkan ke Riau menjadi 50 orang.

Tak Salat Lagi
Sementara itu, salah seorang pentolan eks Gafatar Riau, Sukino, mengakui dirinya sudah keluar dari Islam, namun tetap mempercayai Tuhan Yang Maha Esa (YME). Ia juga mengaku tak lagi melaksanakan salat lima waktu dan berpuasa. Baginya, baik Islam, Kristen, Yahudi adalah sama saja, bertujuan menyembah Tuhan YME.

"Kami sudah keluar Islam, jadi tidak ada lagi kaitannya dengan agama (Islam). Tapi kami percaya dengan Tuhan Yang Maha Esa," akunya.

Seperti apa Tuhan YME yang dimaksud, dia adalah sang pencipta dunia ini. Namun bukanlah seperti Tuhan yang disembah umat muslim. Selain itu, Gafatar disebutnya juga bukanlah organisasi keagamaan, tetapi lebih pada organisasi sosial yang bertujuan untuk anggota Gafatar itu sendiri. Karena itu, dirinya tidak sepakat jika disebut Gafatar adalah sesat dan menyesatkan atau telah menyimpang dari ajaran Islam.

Lebih dari itu, tujuannya membentuk komunitas Gafatar untuk memperkuat ketahanan pangan di Indonesia. Karena itu, kebanyakan anggota Gafatar banyak bertani atau berkebun.
"Organisasi kami ini (Gafatar) tak ada kaitannya dengan agama, karena organisasi kami ini organisasi sosial," ujarnya. (nur, dod, rtc)