Ketindihan: Mistis atau Medis?

Rabu, 16 Desember 2020 - 22:04 WIB
Ilustrasi

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Mistis, ilmu gaib, dan supernatural sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia sejak lama. Banyak hal yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yang selalu dikaitkan dengan mistis. Tidak jarang peristiwa atau kejadian yang berkaitan dengan  ilmu kesehatan maupun ilmu psikologi kerap menjadi imbas atas kepercayaan tersebut. Salah satu contohnya adalah gangguan tidur yang dikenal dengan ketindihan atau sleep paralysis.
 
Ketindihan adalah fenomena di mana seseorang terbangun dari tidurnya dalam keadaan antara sadar dengan tidak sadar, mengalami sesak, tidak bisa bergerak, seakan ditindih dan berbicara. Terkadang juga terjadi ketika seseorang akan tidur ‘terlayang’. Ketindihan sering juga disertai dengan melihat bayangan atau sosok mengerikan dan mendengar suara-suara yang menyeramkan, atau bisikan-bisikan halus. Di Indonesia, siatuasi demikian selalu dikaitkan dengan hal mistis dan supernatural, sehingga memaknai istilah sleep paralysis dalam konteks Indonesia digunakanlah istilah ‘ketindihan’, yang menurut KBBI bermakna tertindih, terhimpit, tidak dapat bergerak dan merintih-rintih (saat tidur) atau dengan kata lain ‘ditindih makhluk halus’ ketika tidur sehingga tidak mampu leluasa menggerakkan tubuh, berbicara, bernafas, bahkan melihat penampakan dan mendengar suara-suara.  

Sleep paralysis dapat menjadi pengalaman yang sangat-sangat menakutkan, mendorong seseorang untuk benar-benar percaya bahwa ada hantu yang mengganggu," kata Smith dilansir dari Fox News, Senin (24/10/2016). 

Terlepas dari kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat, sebenarnya tidak ada yang supernatural dalam ‘ketindihan’. Menurut Live Science (2017), 40 persen manusia di dunia pernah mengalami ketindihan. Fenomena ketindihan ini dikenal di dunia medis sebagai kelumpuhan tidur atau sleep paralysis. Medical News menjelaskan bahwa sleep paralysis adalah salah satu jenis parasomnia atau gangguan tidur yang membuat kita mengalami kejadian yang tidak diinginkan saat baru tertidur, sudah terlelap atau saat terbangun dari tidur. 

Sebenarnya, sleep paralysis terjadi pada pergeseran tahap-tahap tidur. Sleep paralysis terjadi ketika seseorang berada pada tidur paling dalam saat seluruh otot mengalami relaksasi (The American Sleep Disorder Association, 1994). 

Selama sleep paralysis tubuh tidak dapat bergerak, sementara otak tetap memproduksi mimpi-mimpi. Sleep paralysis memengaruhi sebagian besar tubuh kecuali mata. Meskipun seseorang tidak dapat menggerakan tubuh, tetapi mereka masih dapat membuka mata dan melihat lingkungan sekitar. 

Cheyne (2005) mengatakan ada dua aspek sleep paralysis, yaitu ciri fisik dan jenis halusinasi. Ciri fisik seperti tidak mampu bergerak ketika sedang tidur atau pun ketika bangun tidur, tidak mampu berbicara, dada terasa sesak atau merasa tercekik. Sedangkan jenis halusinasi seperti halusinasi visual dan halusinasi auditori.

Sleep paralysis sendiri terbagi menjadi dua,  yang pertama adalah hypnagogic sleep paralysis, di mana saat tertidur tubuh perlahan-lahan masuk ke tahap rileks. Biasanya, berada pada tahap kurang sadar sehingga tidak menyadari adanya perubahan tahap. Namun, apabila tersadar saat tidur, saat itulah akan tersadar tidak dapat bergerak ataupun berbicara. 

Yang kedua adalah hypnopompic sleep paralysis. Ketika tidur, orang akan mengalami pergantian antara tidur rapid eye movement (REM) dan non rapid eye movement (NREM).
Tahap NREM terjadi pertama dan memakan waktu hampir 75% dari waktu tidur. Pada tahap NREM, tubuh akan terasa sangat rileks dan tenang. Di akhir NREM, tahap tidur berubah menjadi REM. Mata akan bergerak cepat dan terjadi mimpi. Otot akan dikunci dan tidak aktif dalam tahap tidur REM. Jika tersadar sebelum REM selesai, saat itulah orang menyadari tidak dapat bergerak ataupun berbicara. (Shelley R Adler, 2011)

Lantas, apa yang terjadi sehingga ketika mengalami ketindihan, orang kerap melihat sosok menyeramkan dan mendengar suara-suara aneh?

Ketika menyadari tidak dapat bergerak leluasa dan tidak dapat berbicara, perasaaan cemas dan bingung akan menguasai otak. Menurut Jalal dan Vilayanur Ramachandran (2014) dalam jurnal Medical Hypotheses, objek menyeramkan itu sebenarnya halusinasi yang merupakan hasil kerja otak untuk menghilangkan kebingungan atau gangguan dalam area otak yang berfungsi menyimpan peta syaraf tubuh, atau yang dikenal dengan Lobus Parietalis yang terletak di otak bagian atas, dekat ubun-ubun.

Jalal juga menjelaskan, saat ketindihan lobus parietalis memantau syaraf-syaraf otak yang mengeluarkan perintah agar otot-otot bergerak, tetapi di saat yang sama tidak mendeteksi adanya pergerakan pada tubuh, yang memang sedang lumpuh. Akibatnya terjadi kekacauan informasi tentang citra tubuh dalam lobus parietalis. Untuk menenangkan kondisi, otak memproyeksikan citra tubuh orang yang mengalami ketindihan pada figure atau sosok abstrak dalam halusinasi yang seringkali tampak seperti hantu. Halusinasi yang muncul bukan hanya berbentuk sosok, tapi juga bisa berbentuk suara ataupun bunyi. Itulah salah satu sebab juga mendengar suara-suara ketika ketindihan.

Alasan lain mengenai sosok dan suara-suara tersebut bisa diakibatkan oleh diri yang kebetulan memang sedang bermimpi buruk dan tersadar di tengah-tengah mimpi. Sehingga sosok yang dilihat dan suara yang didengar dalam mimpi tersebut memproyeksikan diri dalam halusinasi dan terasa seolah-olah nyata. Sebenarnya, hal-hal tersebut juga didorong oleh keyakinan alam bawah sadar yang menganggap bahwa ketindihan merupakan perbuatan para makhluk ghaib, sehingga otak langsung mengkorelasikannya dengan sosok, penampakan dan suara-suara yang biasa dihubungkan dengan makhluk ghaib. Diikuti dengan banyak perasaan negatif seperti cemas dan bingung, rasa takut tadi menyebabkan otak kita berhalusinasi dengan kuat sehingga sosok dan suara tampak benar-benar nyata.

Sleep paralysis tidak perlu dikhawatirkan apabila terjadi sesekali karena merupakan hal normal dalam pergeseran tahap-tahap tidur. Akan tetapi, apabila sleep paralysis sudah terjadi berulang dan menimbulkan halusinasi berlebihan yang menyebabkan kecemasan berlebih dan rasa takut untuk tidur, sebaiknya segera mengkonsultasikan kondisi tersebut kepada psikolog atau dokter spesialis kejiwaan.

Dapat ditegaskan bahwa fenomena sleep paralysis atau ketindihan pada dasarnya tidak berkaitan dengan hantu atau makhluk halus seperti kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat pada umumnya. Kepercayaan tentang hantu dan makhluk halus adalah bangunan dalam perpektif masyarakat dan budaya Indonesia yang sangat sensitif dan cenderung lebih peka terhadap hal-hal yang berbau supernatural dan klenik dibandingkan penjelasan secara ilmiah.

 

Penulis: Fatma Chairani Farhana (Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya)

Editor: Rico Mardianto

Terkini

Terpopuler