Jokowi: Kepercayaan tak Bisa Dibangun Dalam Semalam

Kamis, 19 November 2015 - 10:03 WIB
Presiden Jokowi memberikan sambutan pada pembukaan Konvensi Nasional Humas 2015, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (18/11).

JAKARTA (HR)-Presiden Joko Widodo menegaskan, membangun kepercayaan dan reputasi tidak bisa hanya dalam semalam, satu hari atau dua hari. Menurutnya, membangun kepercayaan adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, sehingga butuh keseriusan dan waktu yang panjang dengan sejumlah bukti latar belakang.


peserta Konvensi Nasional Humas (KNH) Indonesia tahun 2015 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (18/11).
Jokowi mengatakan, kepercayaan adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya. "Membangun kepercayaan, membangun reputasi tidak bisa dalam sehari dua hari, setiap hari keluar pun, setiap detik keluar pun, belum tentu bisa memberikan sebuah persepsi reputasi apalagi kepercayaan," kata Jokowi.
Ditambahkannya, membangun kepercayaan membutuhkan waktu yang panjang dengan sejumlah bukti latar belakang.

"Sudah jelas sektor pemerintahan maupun swasta, kepercayaan adalah sebuah kebutuhan, keharusan. Karena dengan kepercayaan itulah kita bisa membangun ke tempat berikutnya," ucapnya.

Bahkan, tambahnya, sebuah kepercayaan atau reputasi yang telah dibangun dalam waktu lama itu pun bisa runtuh dalam sekejap.

"Tadi saya sampaikan membangun kepercayaan tidak bisa dalam waktu semalam. PR (public relation/ humas) seluruh Indonesia dikumpulkan, diminta untuk membangun kepercayaan sebuah kementerian atau perusahaan dalam semalam, enggak mungkin, tidak mungkin bisa dibangun sekejap mata. Dibutuhkan konsistensi, berkelanjutan dan merawat kepercayaan dengan optimisme dan positif," jelasnya.

Jokowi menuturkan, saat ini kecepatan transformasi media sangat luar biasa. Setiap detik, isu akan bermunculan. Tugas humas dalam hal ini adalah mampu untuk mengontrol setiap isu yang berkembang di masyarakat.

“Praktisi humas harus banyak membaca agar tahu informasi yang terkini, harus ikut perkembangan karena perubahan muncul setiap detik," ujar Jokowi.

Dalam berkomunikasi, perlu adanya komunikasi dialogis bukan monolog serta kemampuan mendengar yang terkadang semua orang tidak memiliki. Presiden mengharapkan praktisi humas tidak hanya sebatas memperoleh informasi, tetapi mampu membangun narasi yang memikat dan bermakna.

Sebelumnya, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Persatuan Humas (Perhumas) Agung Laksamana, dalam laporannya di hadapan Presiden, mengatakan, humas memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa, melalui kegiatan-kegiatan yang positif dan mampu membangkitkan nama bangsa Indonesia.

Bahkan Agung mengatakan kepada Presiden jika ada yang menanyakan berapa jumlah humas di Indonesia, Pak Jokowi dapat menjawab “240 juta humas ada di Indonesia”. Dengan kata lain seluruh masyarakat Indonesia merupakan humas Indonesia.
Konvensi ini juga dihadiri sejumlah pemimpin redaksi media cetak, elektronik dan online. (ral)

Editor:

Terkini

Terpopuler