Webinar Literasi Digital: Lawan Pelecehan Seksual di Dunia Digital

Webinar Literasi Digital: Lawan Pelecehan Seksual di Dunia Digital

RIAUMANDIRI.CO, ROHUL - Indra Samsie, S.Kom., M.Kom : “Daya saing digital yang rendah inilah yang disebabkan antara lain rendahnya literasi digital, juga membuat Indonesia menghadapi sejumlah ancaman. Upaya pemerintah seperti literasi digital bisa disebut dengan upstream yaitu langkah awal atau di hulu. Di midstream berupa penindakan di dunia maya, seperti take down akun-akun palsu, memblokir atau membatasi situs website yang mengandung konten yang melanggar UU ITE.”

Dr. Meithiana Indrasari, S.T., M.M : “Block Konten yang menggambarkan obyek seksual. Blok akun yang mengirim pesan mengganggu seperti ancaman, hate speech atau pelecehan. Berfikir ulang jika ingin berbagi foto. Infokan teman jika ada yang mneyalahgunakan foto atau video mereka. Brikan support kepada para penyintas kekerasan seksual di media sosial.” 

Siti Nurkhasanah, SST, M.Keb : “Bersikap di ruang digital itu bebas tapi tetap bertanggung jawab. Media sosial merupakan sikap pribadi hasil olah budi manusia di dunia real, yang diseret masuk kedunia digital. Aktor utama dari dunia digital adalah manusia. Karena itu, setiap orang harus senantiasa bisa memanusiakan manusia di mana pun berada. Etika di dunia digital membantu mengatur batasan sikap dan perilaku seseorang, untuk menghindari kejadian seperti cyberbullying, ujaran kebencian, penyebaran berita hoaks hingga pelecehan seksual.”


Dr. Tuti Andriani, S.Ag, M.Pd : “Dalam menghadapi perkembangan teknologi, literasi digital merupakan kunci dan fondasi utama. Adanya pandemi juga mendorong implementasi literasi digital semakin cepat di masyarakat.”

Tysa Novenny (KOL) : “”

Kegiatan webinar literasi digital pada hari Senin, 09 Agustus 2021, pukul 14.00 WIB, dengan tema “Stop Di Kamu! Lawan Pelecehan Seksual Di Media Digital” dibuka oleh moderator Azzura Intan. Moderator memberikan reminding untuk para hadirin dalam 10 menit sebelum acara dimulai. Kemudian, moderator membuka rangkaian kegiatan webinar ini dengan mengucap salam, berdoa dan membawakan tagline Salam Literasi Digital Indonesia Makin Cakap Digital. Moderator juga tidak lupa untuk mengingatkan para peserta untuk terus menjaga protokol kesehatan, mencuci tangan, memakai masker, dan menghindari kerumunan.  Acara pertama dimulai dengan memutarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. 

Kemudian, moderator mempersilahkan Dirjen Aptika KEMKOMINFO, bapak Samuel A. Pangerapan untuk memberikan sambutan. Kemudian, moderator memperkenalkan Key Opinion Leader yaitu @tysanovennysariosa, beliau adalah seorang News Anchor TVOne, Profesional Moderator, dan Pembawa Acara. Lebih bijak dalam menerima berita-berita hoax. Banyak terjadi pelecehan seksual di media sosial. Kita harus tau mana standar pelecehan seksual dan bukan. Harus mampu menjaga diri kita. Menggunakan manfaat media sosial. 

Kemudian, moderator membacakan tata tertib dalam kegiatan webinar ini. Setelah itu, moderator memperkenalkan narasumber pertama, bapak Indra Samsie, S.Kom., M.Kom Beliau menyampaikan materi tentang Jaga Bersama Ruang Digital Kita, Kini dunia nyata dan dunia maya nyaris tak ada bedanya lagi. Semua yang dilakukan di dunia nyata dapat dilakukan di dunia maya. Belajar, bermain, berbisnis, bekerja, bersosialisasi, bahkan berekreasi dapat kita lakukan di dunia maya atau kita sebut juga sebagai ruang siber. 

Daya saing digital yang rendah inilah yang disebabkan antara lain rendahnya literasi digital, juga membuat Indonesia menghadapi sejumlah ancaman. Mulai dari penyebaran konten negatif, konten berbau hoaks, ujaran kebencian atau hate speech, bullying, ragam praktik penipuan hingga radikalisme.

Upaya pemerintah seperti literasi digital bisa disebut dengan upstream yaitu langkah awal atau di hulu. Di midstream berupa penindakan di dunia maya, seperti take down akun-akun palsu, memblokir atau membatasi situs website yang mengandung konten yang melanggar UU ITE. Upaya di downstream berupa penindakan di dunia nyata oleh aparat penegak hukum agar pelaku agar jera.

Kemudian, setelah narasumber pertama menyampaikan materinya, moderator memperkenalkan narasumber kedua yaitu ibu Dr. Meithiana Indrasari, S.T., M.M Beliau menyampaikan materi tentang Digital Safety On Sex Crime, Cyber stalking, yaitu sebuah perbuatan menguntit seseorang dalam sosial media hingga korban merasa dirinya terganggu dan ketakutan akan perbuatan pelaku. Mengirim pesan yang tidak diinginkan, biasanya isi dari pesan tersebut adalah hal - hal yang berbau dengan seks atau pelaku memaksa korban untuk membuat sebuah video tidak memakai busana dan akan diancam jika korban tidak ingin melakukan apa yang diminta oleh si pelaku. Mengungkapkan kata - kata yang menghina bahkan merendahkan seseorang, seperti menghina kekurangan fisik atau mental seseorang.

Block Konten yang menggambarkan obyek seksual. Blok akun yang mengirim pesan mengganggu seperti ancaman, hate speech atau pelecehan. Berfikir ulang jika ingin berbagi foto. Infokan teman jika ada yang mneyalahgunakan foto atau video mereka. Brikan support kepada para penyintas kekerasan seksual di media sosial. 

Mengajarkan hal-hal yang perlu diketahui seperti informasi produk dan cara menggunakannya. Menyajikan informasi dengan cara yang menyenangkan dan menarik. Membantu menghilangkan keberatan-keberatan yang mungkin mereka miliki agar mengikuti ide pemikiran creator. Dibantu tampilan visual yang dapat menimbulkan imajinasi user untuk merasakan emosi yang ditimbulkan. Konten yang hebat adalah yang dapat dibagikan, dan memancing user untuk membagikan konten tersebut kelingkarannya. Konten dapat ditemukan lewat search engine dan fitur search di sosial media platform manapun dengan aktivitas SEO yang dilakukan

moderator beralih kepada narasumber ketiga yaitu ibu Siti Nurkhasanah, SST, M.Keb Beliau menyampaikan materi tentang Digital Ethics, Angka kasus kekerasan berbasis gender siber (KBGS) meningkat drastic. Masa Pandemi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis. Peluang Pelecehan Seksual di media digital semakin besar. Perkembangan zaman, dunia maya tidak ada batasan teritorial didalamnya, pengguna digital tidak diharuskan menunjukkan identitas aslinya dalam menjalankan aktivitasnya, informasi yang berada dalam dunia maya sifatnya adalah umum, pengguna berasal dari berbagai Negara, daerah yang memiliki adat, budaya, bahasa yang berbeda sehingga mempengaruhi pengguna yang lain, internet menyediakan berbagai fasilitas sehingga berpeluang melakukan keisengan ataupun hal yang kurang baik yang dapat merugikan pengguna lainnya.

Siberkreasi & Deloitte (2020) merumuskan etika digital (digital ethics) adalah kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital (netiquet) dalam kehidupan sehari-hari. 

Fungsi etika digital adalah untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang dilakukan dalam berinteraksi sosial, apakah benar atau salah. Apakah Baik atau buruk apakah sesuai atau bertentangan dengan norma dan ketentuan yang berlaku didalam sebuah lingkungan sosial.

Etika saat mengirim pesan melalui SMS, pesan teks dengan melihat waktu pengiriman, penggunaan bahasa yang baik dan benar, dimulai dengan salam, mengenalkan identitas, dan isi pesan tujuan ditulis singkat, diakhiri dengan ucapan terima kasih. Etika saat mengirim email, menggunakan alamat email dan foto jadi hal yang merepresentasikan pengirim, harus mengisi subjek email dengan benar, mengisi badan email singkat dan padat, pastikan lampiran sudah tersedia, dan jangan lupa untuk membaca ulang sebelum mengirimkannya.

Cyber Stalking, yaitu perbuatan menguntit seseorang sehingga orang tersebut merasa terganggu bahkan mengalami ketakutan. Mengirim Pesan yang tidak diinginkan ; yang berbau seks. Mengungkapkan kata-kata yang menghina bahkan merendahkan seseorang, seperti menghina kekurangan fisik atau mental seseorang.

Angka kasus kekerasan berbasis gender siber (KBGS) menurut data Komnas Perempuan mengalami peningkatan, dari 241 kasus pada tahun 2019 menjadi 940 kasus di tahun 2021. Di dunia digital spektrum pelecehan seksual itu luas. Tingkah lakunya berupa komentar, ajakan, permintaan, ancaman dan sebagainya. Jadi luas sekali, tergantung isi dari tingkah laku tersebut. Karena ini pelecehan seksual digital jadi dialami via berbagai platform digital. Bisa email, sosial media, telepon, sms, atau aplikasi chatting lainnya.

Karena melewati batas aman dan nyaman seseorang maka bisa jadi tingkah laku tersebut membuat seseorang merasa terancam, dieksploitasi, dipaksa, dipermalukan, didiskriminasi, hinga dijadikan objek/sasaran. Segala komentar yang menyangkut  tubuh, seksualitas, dan identitas seseorang juga termasuk harassement. Masyarakat suka menormalisasi dan menganggap itu sebuah hal remeh. Pelecehan secara psikologis tentu saja mengganggu dan membuat korban merasa tidak aman dan tidak nyaman sehingga berdampak pada penderitaan fisik, mental, atau seksual, ancaman, paksaan, hingga penghapusan kemerdekaan.

Bersikap di ruang digital itu bebas tapi tetap bertanggung jawab. Media sosial merupakan sikap pribadi hasil olah budi manusia di dunia real, yang diseret masuk kedunia digital. Aktor utama dari dunia digital adalah manusia. Karena itu, setiap orang harus senantiasa bisa memanusiakan manusia di mana pun berada. Etika di dunia digital membantu mengatur batasan sikap dan perilaku seseorang, untuk menghindari kejadian seperti cyberbullying, ujaran kebencian, penyebaran berita hoaks hingga pelecehan seksual. Tak kalah penting dalam etika ini setiap individu perlu meninjau ulang kebenaran berita, menghindari penyebaran SARA, hal yang tidak etis, maupun pornografi. Tetap menggunakan Etika Komunikasi dalam Ruang Digital. 

Kemudian, moderator mempersilahkan narasumber terakhir untuk menyampaikan mateirnya dari ibu Dr. Tuti Andriani, S.Ag, M.Pd Beliau menyampaikan materi tentang Mengubah Budaya Konsumtif Menjadi Produktif, Dalam menghadapi perkembangan teknologi, literasi digital merupakan kunci dan fondasi utama. Adanya pandemi juga mendorong implementasi literasi digital semakin cepat di masyarakat.

Layanan ojek online yang mempunyai fitur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyaknya bank, lembaga atau koperasi, dan bahkan aplikasi yang memudahkan untuk kredit. Penawaran paket wisata yang beragam. Online shop yang semakin menjamur.

Program Literasi Digital merupakan bagian dari percepatan transformasi digital terkait pengembangan sumber daya manusia digital. “Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain, melakukan kerja-kerja konkret di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” Presiden menilai tantangan di ruang digital saat ini semakin besar, diantaranya konten-konten negatif dan meningkatnya kejahatan digital seperti hoaks, penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, dan radikalisme berbasis digital. Oleh karena itu, agar masyarakat lebih teredukasi agar konten dunia maya minim konten negatif dan lebih banyak dibanjiri konten positif. “Kita harus tingkatkan kecakapan digital masyarakat agar mampu menciptakan lebih banyak konten-konten kreatif yang mendidik, yang menyejukkan, yang menyerukan perdamaian,” tegasnya. Koneksi digital harus dapat memberikan manfaat dan nilai tambah dalam meningkatkan produktivitas masyarakat, membuat UMKM naik kelas. Ia ingin agar makin banyak UMKM onboarding ke platform e-commerce, sehingga internet bisa memberi nilai tambah ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate menyampaikan, saat ini terdapat setidaknya 196,7 juta warganet di Indonesia. Potensi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 124 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2025 mendatang.

Setelah sesi pemaparan materi selesai, moderator beralih ke sesi tanya jawab antara penanya dan narasumber. Ada empat penanya yang sudah terpilih dan berhak mendapatkan e-money sebesar Rp. 100.000,-

  1. Marwah Gusnaini memberikan pertanyaan kepada bapak Indra Samsie, S.Kom., M.Kom

Q : Apa yang harus di lakukan ketika seorang anak telah mengalami pelecehan seksual  oleh seorang pengajar. dan bahkan murid ini belum bisa berpikir bahwa ia telah mengalami pelecehan seksual , sehingga hal tersebut tidak bisa ia lupakan. bagaimana menyikapi hal tersebut dan menghilangkan rasa trauma yg ia alami agar kedepannya ia tidak menjadi korban seperti itu lagi.

A : Pendidikan sex di Indonesia masih tabu dan peran orang tua sangat penting. Menjalin komunikasi dengan anak itu harus terjalin dulu. Berikanlah pendidikan sex sesuai umur anak. komunikasi yang terjalin harus dibina dari awal dengan anak. komunikasi yang terjalin dan pendidikan sex yang terhubung.  

 

  1. Harnanik Nawangsari memberikan pertanyaan kepada ibu Dr. Meithiana Indrasari, S.T., M.M

Q : Bagaimana cara mengatasi   pelecehan seksual  dunia digital   apalagi sekarang banyak yg kurang baik di  tik tok yg mana ditiru sama anak kecil  peran keluarga yg bagaimana seharusnya diterapkan  Apalagi org tua yg awam.

A : Sebisa mungkin kita mendampingi anak dalam bermedia sosial. Sering komunikasi dalam keluarga karena sangat penting. Memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang resiko hal negative. Kita harus tetap melihat norma, budaya, dan etika dalam bangsa Indonesia.

 

  1. Juwita Triana memberikan pertanyaan kepada ibu Siti Nurkhasanah, SST, M.Keb

Q : Bagaimana pendapat Ibu tentang korban pelecehan seksual di ruang digital yang seharusnya dapat perlindungan hukum, namun justru korban malah mendapatkan etika perudungan dari masyarakat? Sebagai korban dalam kasus tersebut, hal apa yang harus dilakukan?

A : Perlu adanya komunikasi dan interaksi yang baik antara anak dan orangtua. Bertanyalah ditempat yang tepat. Harus dianalisa dan dikaji ulang. 

 

  1. Nugroho Fadillah memberikan pertanyaan kepada ibu Dr. Tuti Andriani, S.Ag, M.Pd 

Q : Bagaiamana kita menasehati keluarga yg memiliki kebiasaan konsumtif dalam dunia digital ini yang sampai terjebak dalam pinjaman online?

A : Kita tidak boleh merugikan keluarga dan lakukan pendekatan personal. Harus diberikan pemahaman. Mari bersama-sama merubah pola kehdipan kita yang konsumtif. Kita harus membeli apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. 

Setelah sesi tanya jawab selesai, moderator kembali menyapa Key Opinion Leader, @tysanovennysariosa. Menurut beliau, jangan diladenin orang iseng itu dan diamkan saja. Orangtua harus lebih pintar dari anaknya. Media social inikan alat yang bisa kita gunakan dan manfaatkan kearah yang positif dan bermanfaat. Kita juga harus menciptakan content yang sangat bermanfaat untuk masyarakat. Kemudian, setelah rangkaian acara selesai, moderator menutup webinar ini dengan mengucapkan salam, mengucapkan terima kasih dan tagline Salam Literasi Indonesia Cakap Digital.