Bedah Novel Bumi Manusia, Teratak Literasi Gaungkan Literasi di Bumi Melayu

Bedah Novel Bumi Manusia, Teratak Literasi Gaungkan Literasi di Bumi Melayu

RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU - Komunitas Teratak Literasi, bertempat di Jalan Bakti I Nomor 6A, Tangkerang Barat, Kota Pekanbaru mengadakan diskusi bedah buku bulanan. Sore tadi, Teratak Literasi membedah novel fenomenal karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia dengan penulis Bambang Kariyawan Ys sebagai pemantik.

Novel Bumi Manusia merupakan novel pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang diterbitkan pertama kali oleh Hasta Mitra pada tahun 1980.

Novel ini ditulis Pram ketika masih mendekam di Pulau Buru. Novel ini menceritakan masa antara 1898 hingga tahun 1918, di mana masa munculnya pemikiran politik etis dan awal periode kebangkitan nasional. Masa ini juga menjadi awal masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda, pertumbuhan organisasi modern, juga awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Prancis.

Bambang mengungkapkan, salah satu poin penting Bumi Manusia yang dapat diambil dan menjadi refleksi bagi generasi sekarang adalah keberhasilan bukan tujuan dari proses perjuangan, tapi penghargaan.

"Itu yang penting. Generasi sekarang harus membaca buku ini agar paham bahwa jangan menilai keberhasilan adalah tujuan dan titik akhir. Keberhasilan itu adalah penghargaan dari perjuangan dan proses yang kita lakukan," ujarnya, Sabtu (23/1/2021).

Dalam novel ini, tokoh penting selain tokoh utama, yaitu Minke, adalah seorang "Nyai" bernama Nyai Ontosoroh. Ontosoroh dianggap sebagai perempuan yang tidak bernorma kesusilaan sebab statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai nyai telah membuatnya sangat menderita, karena tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, Ontosoroh sadar kondisi tersebut dan terus-menerus belajar agar dapat diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya, hanyalah dengan belajar.

Meski demikian, pada akhir cerita, terjadi konflik yang membuat Ontosoroh terpaksa patuh pada hukum yang sewenang-wenang meski telah berjuang mati-matian. Anak kesayangannya, Annelies dibawa paksa kembali ke negeri bapaknya, Belanda. Oleh sebab itulah muncul kalimat yang terkenal dari tokoh Nyai Ontosoroh: Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

"Biarlah, yang penting saya sudah menang meski dalam posisi kalah. Begitulah kira-kira," kata Bambang.

Sementara, Owner Teratak Literasi, Pamula Trisna Suri berharap kegiatan diskusi bulanan yang diberi nama Ngobrolnya di Teratak (Ngontrak) dapat membumikan gaung literasi di tanah Lancang Kuning.

"Semoga dengan adanya acara ini masyarakat lebih gemar membaca," ungkap guru di SMP N 4 Pekanbaru ini.

Kegiatan bedah buku Bumi Manusia kali ini dihadiri 24 orang yang terdiri dari beberapa komunitas, yakni   Forum Lingkar Pena (FLP) Kota Pekanbaru, FLP Wilayah Riau, Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Wilayah Riau, FTBK Kota Pekanbaru, Rumpun Perempuan dan Anak Riau (Rupari), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).


Reporter: M Ihsan Yurin