Pertama Selama 63 Tahun Berdiri, Pertumbuhan Ekonomi Riau Minus 3,2 Persen

Pertama Selama 63 Tahun Berdiri, Pertumbuhan Ekonomi Riau Minus 3,2 Persen

RIAUMANDIRI.ID, PEKANBARU - Sudah 63 tahun Provinsi Riau berdiri. Saat inilah baru pertama kalinya terjadi pertumbuhan ekonomi menurun hingga mencapai minus 3,2 persen. Kondisi ini akibat terjadinya pandemi Covid-19 dan penurunan ekspor pulp and paper, CPO, karet dan lainnya. 

Hal tersebut disampaikan Gubernur Riau, Syamsuar, pada Rapat Paripurna HUT ke-63 Riau di Gedung DPRD Riau, Ahad (9/8/2020). 

Menurut Gubri, pertumbuhan ekonomi di Riau triwulan II minus 3,2 persen. Padahal sebelumnya plus 2,2 persen. Untuk itu, Gubri mengajak semua stakeholder bersama-sama mendorong ekonomi Riau agar bisa normal kembali. Karena menurutnya potensi untuk meningkatkan ekonomi itu masih ada. 


“Pada masa pandemi tahun ini, pertumbuhan ekonomi Riau pada triwulan kedua tahun 2020 mengalami kontraksi yang cukup besar yaitu mencapai minus 20 persen. Dengan kondisi seperti ini, kita harus bergandeng tangan bersama-sama untuk keluar dan bangkit dari kondisi keterpurukan ini," ujar Gubri.

"Menurunnya pertumbuhan ekonomi Riau karena ekspor pulp and paper menurun, dan ekspor CPO juga berkurang. Termasuk ekspor karet dan lainnya. Jadi itu beberapa sektor yang mempengaruhi turunnya ekonomi di Riau. Kami juga sudah mengajak perusahaan-perusahaan untuk berinvestasi. Dan beberapa perusahaan sudah ada yang akan berinvestasi di Riau. Kemudian juga akan membantu menggerakkan UKM agar mereka bisa mengungkit ekonomi," ujar Gubri lagi.

Sedangkan dari sisi produksi, kata Gubri, Lapangan Usaha Jasa Perusahaan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 47,28 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 5,80 persen dan 3,83 persen.

"Sedangkan pertumbuhan positif hanya terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa. Sementara itu, ekonomi Riau triwulan II-2020 terhadap triwulan sebelumnya mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 4,49 persen (q-to-q)," ujarnya.

Lalu, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Perusahaan mengalami kontraksi pertumbuhan tertinggi sebesar 38,14 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Komponen Ekspor Barang dan Jasa serta Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing sebesar 8,11 persen dan 5,62 persen. 

Ekonomi Riau semester I-2020 terhadap semester I-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,50 persen. Ekonomi Riau triwulan II-2020 jika dihitung tanpa migas mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,70 persen (years on years). Meskipun mengalami kontraksi ekonomi, kata Gubri, pada triwulan II-2020 Riau berkontribusi sebesar 4,45 persen terhadap perekonomian nasional.

"Provinsi Riau merupakan provinsi dengan PDRB terbesar ke-6 di Indonesia atau PDRB terbesar kedua di luar Pulau Jawa. Asapun besaran PDRB Riau atas dasar harga berlaku triwulan II-2020 mencapai Rp168,10 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp117,56 triliun," kata Gubri. 


Reporter: Nurmadi



Tags Riau