Unri Kembangkan Desa Wisata Binaan di Sepahat Bengkalis

Unri Kembangkan Desa Wisata Binaan di Sepahat Bengkalis

RIAUMANDIRI.ID, SEPAHAT - Tim pengabdian masyarakat Universitas Riau (Unri) mengembangkan Desa Sepahat sebagai desa binaan untuk dikembangkan sebagai destinasi desa wisata. Upaya ini dilakukan mengingat desa yang berada di Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis ini memiliki potensi pantai dan kearifan lokal yang dapat dipadupadankan dengan aktivitas usaha sehari-hari masyarakat.

Menurut Dr Syamsuduha, kegiatan yang dilakukan Unri ini dilakukan sebagai bagian dari tanggung jawab pihaknya untuk dapat mengaktualisasikan gagasan, ide, ilmu pengetahuan serta keahlian dari sumber daya di kampus kepada masyarakat. 

Dikatakan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Riau ini bahwa kegiatan pengembangan kawasan desa wisata di Sepahat yang dimulai bulan Juni hingga September 2020 mendatang, dilakukan oleh dosen dari berbagai disiplin ilmu, baik FMIPA, FISIP, dan juga FKIP. 


"Kami juga membentuk kelompok khusus dari dosen berbagai kampus besar di Indonesia untuk mendiskusikan potensi serta mencari langkah-langkah untuk dapat diterapkan di desa binaan ini," katanya lagi.

"Kegiatan ini sendiri akan dimulai dari menghimpun berbagai potensi ekonomi kreatif yang mungkin dapat digerakkan bersinergi dengan pengembangan kawasan wisata pantai," kata Ahmad Jamaan, anggota tim pengabdian yang juga dosen Hubungan Internasional FISIP Unri. 

Salah satu sudut pandang kawasan wisata pantai Desa Sepahat. (Foto: Ahmad Jamaan)

"Diperlukan kesatuan gerak antara aparat pemerintah desa, masyarakat serta kelompok kepentingan lainnya untuk mewujudkan desa wisata ini. Masyarakat merupakan kunci utama karena konsep desa wisata itu memang lebih mengutamakan kepedulian, kesadaran, aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat," katanya lagi. 

Dikatakan Ahmad, konsep desa wisata ini tidak hanya mengandalkan pemandangan alam pantai, permainan air, akan tetapi juga konsep wisatawan untuk bermukim di rumah-rumah warga agar terasa suasana desa, ikut menikmati makanan di rumah warga, serta berinteraksi dengan pemilik rumah. 

Selain itu, jelasnya, aktivitas ekonomi seperti kuliner dan kerajinan khas lokal juga akan disejalankan dengan aktivitas warga, mulai dari promosinya hingga cara mendapatkan produk tersebut secara mudah. 

"Di tahap awal, kami telah melakukan sosialisasi kepada aparat pemerintah setempat, tokoh masyarakat, pelaku usaha kecil dan  menengah, pengelola badan usaha milik desa serta kelompok masyarakat sadar wisata,’’ katanya. 

Menurut Ahmad, saat ini diperlukan beberapa upaya agar upaya ini dapat terwujud, baik melalui penguatan masyarakat dan institusi masyarakat, penguatan fasilitas layanan tujuan wisata, perbaikan kamar home stay yang lebih baik, perbaikan akses ke lokasi, termasuk meningkatkan standar kebersihan. 

Pengembangan desa wisata perlu dukungan semua kalangan, terutama masyarakat dan pemerintah setempat. (Foto: Mirza Hardian)

Ditambahkannya pula saat ini pihaknya berupaya mendorong agar ada keterpaduan dan ketersediaan informasi kuliner di tiap tempat, seperti di home stay dan kafe milik Bumdes termasuk aktivitas yang bersifat hobi seperti pengembangan titik-titik memancing dan kegiatan melaut bersama nelayan.

Lebih lanjut dijelaskan Ahmad bahwa  kegiatan pendampingan mereka akan berlanjut dengan memberikan penguatan kepada masyarakat melalui pembentukan kelompok sadar wisata yang lebih terorganisasi seperti pembentukan AD/ART, program kerja, serta pertemuan rutin membahas kendala untuk mencari jalan keluar yang mungkin dilakukan masyarakat bersama pemerintah desa. 

‘’Misalnya membuat peraturan desa agar status desa wisata data diakui secara hukum termasuk mengelola paket wisata,’’ ujarnya.

Sementara itu Camat Bandar Laksamana dan Kepala Desa Sepahat menyambut baik upaya Universitas Riau untuk menciptakan desa binaan berupa desa wisata. 

Camat Acil Esyno, MSi menyatakan antusiasnya atas apa yang dilakukan kecamatannya. Kegiatan ini bisa ditindaklanjuti dengan pembentukan rancangan induk pariwisata, katanya. Ia juga menyatakan upaya ini sejalan dengan visi dan misi kepala desa. 

Hal senada dikatakan Kepala Desa Sepahat Muhammad Azlan, Lc. Pihaknya sudah mengalokasikan belanja mencapai Rp1 miliar untuk pengembangan wisata di desanya. Dana tersebut dipakai untuk pembuatan kamar kecil, peningkatan fasilitas parkir di lokasi wisata, pembuatan dermaga serta gerai makanan di atas laut serta permainan laut.  

Saat ini pihaknya juga tengah melakukan pembinaan terhadap masyarakat desanya untuk mengembangkan usaha kecil dan menengah yang dapat mendukung terwujudnya desa wisata. ***