Radhar Panca Dahana Kritik Kebijakan Kampus Larang Kegiatan Malam Mahasiswa

Radhar Panca Dahana Kritik Kebijakan Kampus Larang Kegiatan Malam Mahasiswa

RIAUMANDIRI.ID, PEKANBARU - Radhar Pancha Dahana, sastrawan sekaligus budayawan pada Selasa (25/2/2020) malam berorasi sebelum pementasan teater Bangsawan Tengku Mahkota Seri Buantan yang ditaja ISAIS UIN Suska Riau. Pada kesempatan itu dia mengkritik kebijakan kampus-kampus yang membatasi kegiatan malam mahasiswa. 

Menurutnya, bagaimana caranya mahasiswa dapat berimajinasi jika kegiatan malam dibatasi. Padahal, malam adalah waktu paling mudah untuk mengembangkan imajinasi.

"Lu itu generasi yang dimanja, generasi yang diprotek. Pertama dari orang tua, kemudian dari sistem termasuk kampus. Makanya kalian ini pada mager (malas gerak) secara fisik, mental, logika, bahkan spiritual. Kalian hidup dalam kemanjaan anak bungsu yang penuh proteksi itu. Kenikmatan palsu itu. Sampai malam pun enggak boleh berkegiatan," di ruang istirahat di gedung Anjungan Seni Idrus Tintin, Selasa (25/2/2020) malam.


Salah satu wartawan yang merupakan alumni UIN Suska Riau berkomentar, "Sekarang di UIN juga enggak boleh kegiatan malam, Pak. Jam 6 sudah disuruh pulang."

Radhar menanggapi, "Nah, makanya saya tanya, gerombolan malam enggak boleh ada, mahasiswanya enggak berimajinasi dong? Lha wong ngobrol ngalor-ngdul mikir dan berimajinasi itu waktunya malam. Tiba-tiba diproteksi, dilarang, yang itu justru mengkerdilkan kalian," pungkasnya.

Al Azhar, Ketua Kerapatan Adat Melayu Riau menambahkan, proteksi itu juga datang sebab dua alasan. Pertama para orang tua tidak percaya, kedua memang tidak bisa dipercaya.

"Kalian diprotek itu karena tidak percaya atau memang tidak bisa dipercaya. Sebab, generasi kami ini tumbuh dan berkembamg memang di situasu yang tidak dapat dipercaya. Dan harus kami akui, memang generasi kami generasi yang tidak dapat dipercaya. Lalu bagaimana mungkin kami bisa percaya ke generasi selanjutnya?" jelasnya.

Azhar menambahkan, "Benar kata Radhar, hutan-hutan kita hancur, hewan-hewan punah. Itu bukan sekadar hutan saja, tapi ada hal hakekat yang juga turut dihancurkan. Di masa siapa? Ya di masa kami-kami ini. Riau berasap pertama kali tahun 97, itu masa-masa kami," tutupnya.

Saat wawancara, hadir juga Direktur ISAIS sekaligus Wakil Dekan Fakultas Tarbiah UIN Suska Riau, Alimudin Hassan. Ia tak berkomentar dan hanya senyum-senyum mendengar kritikan Radhar. 

 

Reporter: M. Ihsan Yurin