Gagasan

Ketika Periklanan Jadi Mati Suri Dalam Disrupsi Marketing

Oleh: DR. H. Irvandi Gustari
(Praktisi Perbankan & Akademisi)

RIAUMANDIRI.CO - Pada zaman milenial ini, disrupsi memang menjalar ke mana-mana tanpa batas. Tanpa terkecuali yang kena disrupsi itu adalah mind set (pola pikir) kita. Bagi kita yang bergerak dalam dunia usaha bisnis, mendengar marketing mix (bauran pemasaran) adalah sesuatu yang tidak asing di telinga kita. 

Saat ini memang belum ada yang menandingi pemikirannya tentang marketing di dunia ini, yaitu, Philip Kotler. Dulu kita pernah mendengar bauran pemasaran itu adalah 4 P yaitu : Product (Produk), Price (Harga), Place (Lokasi) dan Promotion (Promosi). Lalu pada era tahum 1990an atau tepatnya sekitar 1997, sejalan dengan perkembangan dunia bisnis, marketing mix itu sudah menjadi 7P yaitu: Product, Price, Promotion, Place, Participant, Process, dan Physical Evidence.

Sampai saat ini dalam ilmu pemasaran di belahan dunia manapun masih mengakui bahwa marketing mix masih tetap 7P dan belum ada penambahan P lagi seperti era sebelumnya. Lalu timbul pertanyaan, masih relevankah kita mengandalkan pemikiran kita pada 7 P ini di saat era disrupsi merajalela tanpa mengenal waktu dan juga tidak mengenal bidang. Secara fakta bahwa semua dimensi memang kena dampak disrupsi.

Contoh sederhana, coba kita menanyakan kepada diri kita, bahwa dulu pada era sebelum era disrupsi ini, apakah benar bahwa program periklanan yang gencar dan terstruktur akan sangat mempengaruhi pola pikir kita dan pada akhirnya memutuskan untuk sampai pada tahapan membeli. Ya, memang dalam ribuan penelitian ilmiah baik dalam bentuk jurnal maupun disertasi ataupun produk riset ilmiah lainnya, telah membuktikan bahwa adanya korelasi positif antara volume pembelajaan periklanan dan strategi periklanan tersebut telah terbukti memiliki korelasi yang sangat positif dalam meningkatkan volume bisnis.

Dalam era disrupsi atau sering kita dengar disebut sebagai era disruption, semua kondisi telah berubah. Betulkah saat ini 7 P dalam marketing mix tidak lagi manjur dijadikan dasar pemikiran untuk melakukan kegiatan pemasaran yang sukses? Timbul pertanyaan lanjutan, benarkah bahwa salah satu dari aspek 7 P itu yaitu Promosi yang di dalamnya ada item periklanan, bukankah dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk peningkatan penjualan dalam strategi pemasaran saat ini pada era disrupsi? Jawaban iya atau tidak, dapat kita telaah pada penjelasan di bawah ini.

Kita saat ini dengan dukungan kecanggihan teknologi, dengan begitu cepat bisa mendapatkan informasi dan sehingga bisa mengubah pola dan gaya hidup manusia ini, ternyata juga bisa mengubah cara manusia dalam memutuskan untuk membeli suatu produk.

Lalu kembali ke pertanyaan awal, sejauh mana peran periklanan dalam mempengaruhi keputusan untuk membeli pada saat era disrupsi ini? Konsep kepercayaan dalam memutuskan pembelian menjadi hal yang utama. Iklan tidak lagi dominan untuk mempengaruhi keputusan pembelian suatu produk. Konsep kepercayaan pelanggan lebih dipengaruhi oleh faktor: “Friends, Families, Fans” atau lebih dikenal saat ini bahwa “3F” menjadi sangat dominan dibanding “7P”.

Ada unsur “kepercayaan” yang dominan dalam “3F” itu, dan dari mana datangnya, ya dari faktor “customer experience”. 

Apa buktinya? Secara sederhana dapat diilustrasikan bila seseorang ingin membeli barang-barang seperti pakaian ataupun kebutuhan hari-hari. Apa yang terjadi? Produk yang akan dibeli tersebut, di upload ke dalam group WA dan selanjutnya muncul berbagai macam tanggapan dari anggota group WA tersebut, dan itulah yang disebut dengan dominannya aspek 3F yang didasari oleh “customer experience”. 

Jadi gimana nasib periklanan? Tidak ada jalan lain, harus segera ubah haluan dengan mengedepankan “3F” tersebut. Itulah disrupsi marketing. ***


Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar