TKN Ragukan Hasil Survei Polmark, Ini Alasannya

TKN Ragukan Hasil Survei Polmark, Ini Alasannya

RIAUMANDIRI.CO, JAKARTA - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin meragukan hasil survei Polmark yang menyebut capres mereka hanya unggul 14,6% atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Apalagi, lembaga survei tersebut bekerjasama dengan PAN, yang merupakan parpol pengusung Prabowo-Sandiaga.

"Yang perlu diketahui oleh publik adalah survei Polmark bekerjasama dengan DPP Partai Amanat Nasional di 73 Dapil. Dan menariknya juga pemaparan hasil survei ini dibuat menjadi roadshow. Jadi bisa diduga juga bagian dari upaya menggaet efek bandwagon," kata juru bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily dalam keterangannya, Kamis (14/3/2019).

Ace menilai metodologi yang digunakan Polmark tidak biasa. Sebab, rentang waktu yang digunakan dalam survei dinilainya terlalu jauh.


"Rentang waktu survei berbagai dapil itu terlalu jauh ada yang Oktober, November, Desember 2018, ada yang Januari dan Februari 2019. Dinamika dalam rentang waktu itu terlalu jauh. Sehingga tidak menggambarkan pergeseran yang terjadi dalam rentang waktu 5 bulan itu," ujarnya.

Politisi Golkar itu pun mempertanyakan angka undecided voters 33 persen dalam survei itu. Ace menduga angka undecided voters sengaja diperbesar untuk memberi kesan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf belum menembus 50 persen.

"Di survei Polmark nomor 1 Jokowi, nomor 2 undecided, nomor 3 Prabowo. Sebaliknya, hampir sebagian hasil survei menunjukkan undecided semakin mengecil sejalan dengan mendekati pemilu. Hasil survei Polmark bisa jadi dilakukan dengan memperbesar angka undecided untuk menciptakan framing bahwa petahana masih di bawah 50 persen," papar Ace.

"Jadi semakin jelas survei Pollmark adalah bagian dari strategi politik kubu 02 untuk membangun framing bahwa petahana masih tidak aman karena elektabilitasnya di bawah 50 persen. Roadshow Polmark adalah bagian dari panggung-panggung yang memang sengaja dirancang," imbuhnya.

Sebelumnya, elektabilias Jokowi-Ma'ruf versi Polmark di 73 Dapil adalah 40,4 persen. Sementara elektabilitas Prabowo-Sandiaga adalah 25,8 persen.

Survei yang dilakukan PolMark Indonesia bekerjasama dengan DPP Partai Amanat Nasional digelar di 73 dapil dari 80 dapil seluruh Indonesia untuk tingkat pemilihan DPR RI. Survei ini dilakukan dari bulan Oktober 2018-Februari 2019 dengan jumlah responden 440 di masing masing 72 dapil dengan margin of error plus-minus 4,8 persen dan 880 responden di 1 dapil dengan margin of error plus-minus 3,4 persen.

Pengambilan sampel survei ini dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling dengan selang kepercayaan 95 persen.