Wisata

Rumah Alam Bakau, Surga Mangrove di Negeri Pembabat Hutan

RIAUMANDIRI.CO - Segerombolan monyet yang tampak sudah akrab dengan kehadiran manusia mencuri perhatian kami ketika memasuki kawasan ekowisata Rumah Alam Bakau. Sepintas kawasan ini jika dilihat dari luar terasa tidak begitu istimewa, akan tetapi semua pikiran itu berubah ketika kami mulai memasuki kawasan yang dipenuhi pohon bakau dan dijaga kelestariannya ini.

Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang diketuai oleh Setiono, telah menanti kedatangan kami. Di bangunan gazebo yang terbuat dari papan seluas 4x6 meter itu, Setiono dan rekan-rekannya banyak bercerita awal mula dibangunnya kawasan ekowisata Rumah Alam Bakau.

Setiono, Ketua Pokdarwis Rumah Alam Bakau

Menurut Setiono, sekitar tahun 2012 kawasan seluas 25 hektare yang terletak di Kampung Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Apit itu, sudah babak belur oleh penebangan liar yang dilakukan masyarakat setempat. Kayu-kayu di hutan itu tidak hanya dibawa keluar, tapi juga dijadikan bahan baku untuk pembuatan arang. Salah satu perusahaan pembuat arang di sana, dikatakan terbesar se-Kabupaten Siak.

Dilabeli sebagai desa tertinggal, dan sadar akan sumber daya alamnya yang sudah mulai habis. Pada tahun 2013 silam, Setiono menjadi pioneer perubahan untuk desa yang sudah ditempati kedua orang tuanya selama puluhan tahun.

"Sudah cukup lama kami berbuat dosa kepada alam, kini saatnya kami menebus dosa-dosa itu," begitu kata Setiono.

Setiap perubahan pastinya ada penolakan, cibiran, cacian, bahkan hinaan. Namun semua itu mulai berbuah manis, ketika masyarakat luar mulai melirik kerja keras Setiono. Konsorium Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Wilayah Riau dukungan Yayasan Belantara salah satunya yang membantu pengelola Rumah Alam Bakau untuk pengembangan kawasan itu menjadi ekowisata hutan mangrove.

Saat ini saja, sedikitnya 32 ribu tanaman bakau yang sudah ditaman, dan 21 ribu bibit yang siap tanam. Itu terdiri dari 17 jenis tanaman bakau seperti, Bakau Puteh, Kedabu, Tembusing, Api-api putih dan lain sebagainya.

Sejak kawasan itu direstorasi menjadi hutan bakau, satwa-satwa liar juga kembali menghampiri kawasan tersebut. Seperti habitat monyet yang dulunya sudah tidak tampak karena penebangan liar, saat ini sudah mulai banyak lagi berdatangan. Bahkan monyet-monyet ini sudah akrab dengan kehadiran manusia. Mereka seperti sudah terbiasa diberi makan oleh tangan-tangan para pengunjung. Selain itu ada juga 10 jenis burung, 11 jenis ikan, dan 9 jenis siput hutan bakau yang hidup di kawasan tersebut.

Untuk menuju ke dalam hutan bakau, pengunjung dapat menggunakan akses jalan yang dibuat dari papan dengan lebar hampir satu meter. Di dalam hutan bakau, pengelola juga sudah menyediakan rumah pohon maupun spot berfoto dengan latar hutan bakau yang memukau.

Semakin dalam memasuki hutan bakau, semakin tua pohon bakau yang akan dijumpai. Kicauan burung, dan suara-suara binatang yang hidup di alam bakau menjadi keunikan tersendiri pada kawasan ini.

Melihat keseriusan pengelola terhadap pengembangan kawasan ekowisata ini, tidak muluk-muluk jika Setiono mengatakan Rumah Alam Bakau nantinya akan menjadi pusat penelitian dan pengembangan bakau di Kabupaten Siak. Itu lantaran ada beberapa jenis bakau yang hidup di kawasan ini dan tidak ditemukan di kawasan lain di Kabupaten Siak.

Kegiatan wisata di area hutan mangrove disamping mampu menumbuhkan perekonomian masyarakat sekitar dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan kesempatan usaha di sekitar area ekosistem hutan dan ekosistem pantai, juga mampu menjaga keseimbangan lingkungan dan ekosistem hutan, khususnya hutan mangrove.

Sejak dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Siak, hutan bakau Kampung Rawa Mekar Jaya sebagai daerah konservasi dan objek wisata edukasi, sudah banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Pekanbaru yang melakukan penelitian di hutan bakau ini. Untuk tiket masuk, pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp5.000 per orang.

Untuk mencapai kawasan ekowisata di Kampung Rawa Mekar Jaya, hanya memakan waktu 3-4 jam dari Kota Pekanbaru - Riau via jalan lintas timur. Prasarana jalan memang masih menjadi kendala untuk memasuki kawasan Rumah Alam Bakau. Akses jalan yang belum seluruhnya aspal/beton, ditambah lagi dengan jalan berlubang, menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat untuk segera diperbaiki.

Kedapannya, di Rumah Alam Bakau akan dibangun juga perpusatakaan hutan, dapur memesak olahan lokan (hewan sejenis kerang yang hidup di hutan bakau), dan jalan menuju akses ke dalam hutan bakau akan dibuat dari beton.

Sungguh mulia keinginan Pokdarwis Rumah Alam Bakau ini. Dari tangan-tangan mereka, hutan yang dulunya sudah babak belur oleh tangan-tangan manusia, kini dengan tangan-tangan dingin mereka, tumbuh menjadi hutan mangrove yang asri. Tidak hanya membantu perekonomian masyarakat sekitar, mereka juga sudah membantu mengembalikan fungsi ekosistem hutan yang dulu sempat rusak parah tak berbentuk.

Monyet-monyet yang hidup di dalam hutan dan sempat migrasi ke daerah-daerah lain, bahkan masuk ke pemukiman warga, kini sudah kembali ke habitatnya. Hewan air yang hidup di hutan bakau seperti lokan yang dulunya tidak terlihat lagi, kini sudah berkembang biak di kawasan itu dan menjadi salah satu mata pencarian ibu-ibu setempat untuk membantu suami menopang ekonomi keluarga.

Penulis: Nandra F Piliang


Loading...

[Ikuti Riaumandiri.co Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar