Apakah Ke-Islaman Mohamed Salah Berpengaruh Pada Antusiasme Fans Muslim?

Apakah Ke-Islaman Mohamed Salah Berpengaruh Pada Antusiasme Fans Muslim?
RIAUMANDIRI.CO - MESUT Oezil, Mousa Dembele, Riyad Mahrez, Paul Pogba, dan Mohamed Salah merupakan nama-nama pemain klub Liga Primer yang memeluk agama Islam. Keyakinan mereka dapat dilihat pada perilaku di lapangan—mengangkat kedua tangan ketika berdoa sebelum laga dimulai atau bersujud setelah mencetak gol.
 
Dilansir dari BBC, bagi Mohamed Salah, sikap ini juga berlaku. Namun, karena performanya bersama Liverpool musim ini terbilang luar biasa dengan mengoleksi 43 gol, para pendukung klub tersebut menjadikan agama yang dianut pemain Mesir tersebut sebagai bahan sanjungan.
 
Sejumlah Liverpudlians—julukan terhadap pendukung Liverpool—membuat yel-yel yang mengadaptasi lagu Good enough karya band Dodgy dari tahun 1996.
 
"Jika dia cukup baik untukmu, dia cukup baik untukku."
 
"Jika dia menciptakan gol-gol baru, aku pun akan menjadi Muslim."
 
"Duduk di mesjid, di situlah kuingin berada."
 
Yel-yel itu menjadi viral setelah sekerumunan pendukung Liverpool tampak menyanyikannya dan menampilkan videonya di Twitter.
 
Asif Bodi, seorang Muslim dan penggemar Liverpool, mengapresiasi nyanyian tersebut. Menurutnya, pesan yang terkandung dari yel-yel itu berdampak positif bagi Liverpool—yang merupakan kota tempat tinggal William Quilliam, warga Inggris pertama yang menjadi mualaf pada 1887 dan yang membuka masjid serta pusat Islam pertama di Inggris.
 
"Lagu Mo Salah menunjukkan betapa warga Liverpool merupakan warga yang toleran dan terbuka. Ditilik dari sejarahnya, Liverpool punya reputasi sebagai kota yang menyambut pendatang dan tempat salah satu masjid pertama di Inggris," papar Bodi.
 
Sebagai seorang penggemar yang rutin menyaksikan penampilan anak-anak asuhan manajer Jurgen Klopp di Stadion Anfield, Bodi melihat bahwa jumlah umat Muslim yang mendukung Liverpool bertambah berkat penampilan Mo Salah.
 
"Kesuksesan Salah menyebabkan peningkatan basis penggemar Liverpool di Inggris dan di dunia Muslim. Saya gembira mendengar seorang penggemar Manchester United yang berusia 10 tahun menjadi pendukung Liverpool karena lagu tersebut. Itu bagus," tambahnya.
 
Seperti Mo Salah, Mesut Oezil bangga dengan Islam dan sering menunjukkannya di lapangan. "Saya seorang Muslim, saya mempercayainya. Anda bisa lihat sebelum pertandingan bahwa saya berdoa dan saya gembira dapat berada di jalur ini. Hal itu memberikan saya kekuatan besar," kata Oezil.
 
"Saya adalah seseorang yang selalu bersyukur, seseorang yang tidak hanya berharap yang terbaik untuk diri sendiri tapi juga orang-orang. Ini menjadi bagian sangat penting dalam hidup saya. Yang penting adalah berkumpul dan menunjukkan rasa hormat," imbuhnya.
 
Sebagaimana stadion-stadion klub Liga Primer lainnya, Stadion Emirates-nya Arsenal memiliki ruang sembahyang untuk para penonton. Saat waktu ibadah tiba saat pertandingan masih berlangsung, para penonton punya tempat untuk salat berjemaah sebelum kembali menonton laga di kursi masing-masing.
 
Pada September 2016, tribun utama di Stadion Anfield rampung dibangun dan ruang ibadah multi-agama turut didirikan. Ruangan itu bukan saja mewadahi keperluan ibadah para penonton, tapi juga sebagai tanggapan atas insiden yang dialami Bodi dan seorang penggemar Liverpool lainnya, Abubakar Bulla.
 
Foto Bodi dan Bhula yang sedang salat di salah satu sudut Stadion Anfield pada 2015 beredar di Twitter setelah seorang penonton mengunggahnya lengkap dengan cuitan, "Orang Muslim sembahyang saat jeda pertandingan kemarin. #Memalukan."
 
Pihak klub mengecam cuitan itu dan begitu pula sejumlah pendukung Liverpool.
 
Menengok masa-masa itu, Bodi dan Bulla bertanya-tanya apakah penggemar Liverpool yang bersikap negatif kepada mereka ikut-ikutan bersorak saat Mo Salah menjebol gawang lawan dan bertepuk tangan melihat pemain Mesir itu bersujud di lapangan.
 
"Saya kini berpikir bahwa reaksi negatif di Twitter mengenai ibadah salat kami adalah reaksi minoritas yang sangat kecil. Nyanyian Mo Salah justru menunjukkan perasaan sejati Liverpudlians," kata Bodi.
 
Dia kemudian mengapresiasi ruang sembahyang di Stadion Anfield. "Tak perlu diragukan, fasilitas ini menyebabkan jumlah Muslim yang menonton pertandingan bertambah banyak. Kesuksesannya dapat dinilai oleh fakta bahwa orang yang ingin menggunakan ruangan itu semakin banyak, padahal ruang itu terbatas kapasitasnya."
 
Keberadaan ruang ibadah di stadion-stadion pada masa kini dapat dibilang kemajuan dibanding beberapa tahun lalu. Pada Oktober 2013, saat pertandingan antara West Ham United dan Manchester City sedang berlangsung di Stadion Upton Park, London timur, sejumlah pendukung tuan rumah menunaikan ibadah salat Maghrib di bawah tribun penonton
 
Video yang menampilkan mereka sedang salat muncul kemudian di media sosial dan mereka menerima pelecehan rasis dan Islamofobia. Tidak ingin kejadian ini terulang, klub West Ham memastikan markas mereka yang baru di Stadion London memiliki ruang ibadah multi-agama.
 
Selain bertambahnya kaum Muslim yang menyaksikan pertandingan di Stadion Anfield, performa Mo Salah punya dampak lain.
 
Di kawasan West Midlands, klub West Bromwich Albion punya basis pendukung yang sebagian besar kelas pekerja berkulit putih. Umat muslim relatif sedikit di sini. Salah satunya, Ashley Rawlins—yang menjadi mualaf pada 2012 lalu.
 
Bagi Rawlins, penampilan Mo Salah dan nyanyian pendukung Liverpool berimbas positif pada komunitas Muslim di tempatnya bermukim.
 
"Nyanyian pendukung Liverpool yang menyanjung Mo Salah adalah hal positif. Itu menunjukkan bahwa sepak bola menyatukan khalayak. Anda takkan bisa melihat sesuatu seperti ini beberapa tahun lalu, khususnya ketika orang-orang menyanyikan lirik 'duduk di masjid, di situlah kuingin berada'," paparnya.
 
West Bromwich Albion sendiri punya pemain Muslim, Ahmed Hegazi dan Ali Gabr. Keduanya rekan senegara Mo Salah. "Di klub saya, kami punya cerita yang sama terkait Ahmed Hegazi. Dia begitu baik diterima, keberaniannya dalam pertandingan menginspirasi dan hasilnya para penggemar mencintai dia. Saya mencetak namanya di punggung kaus dan dia jelas menjadi awal perbincangan," kata Rawlins.
 
Soal Islam, Rawlins yang bekerja di Kementerian Kehakiman Inggris, sering ditanyai rekan-rekan kerjanya dan pria berusia 29 tahun itu membagi pengetahuannya dengan senang hati. "Di tempat kerja, saya berbincang secara rutin dengan tim saya dan ada minat soal Islam. Mereka menanyakan banyak pertanyaan dan saya suka menjawabnya. Jika saya tidak tahu jawabannya, saya mencari tahu dan kembali lagi ke mereka," tuturnya.
 
Rawlins mendorong umat Muslim di Inggris lebih terlibat dengan mendukung klub-klub sepak bola lokal. Namun, dia mengingatkan bahwa klub-klub tersebut juga harus memenuhi keperluan ibadah para penggemar saat pertandingan berlangsung.
 
"Umat Muslim sebaiknya datang ke pertandingan-pertandingan sepak bola untuk menunjukkan ke publik bahwa ada banyak kesamaan di antara kita, terlepas dari keyakinan masing-masing," ujarnya.
 
"Kendati begitu, saya merasa klub-klub sepakbola yang punya basis penggemar dengan demografi campuran seharusnya bisa lebih banyak berbuat untuk mengatasi kurangnya fasilitas ibadah mengingat hal ini adalah bagian fundamental dari agama kami dan banyak agama lainnya," tutupnya.
 
Editor: Nandra F Piliang
Sumber: Okezone