Uniknya Rujak Pace atau "Mengkudu" Khas Gombong

Uniknya Rujak Pace atau

KEBUMEN(riaumandiri.co) - Dalam tradisi Jawa, rujak adalah salah satu kudapan yang keberadaannya terbilang cukup penting. Dalam beberapa upacara adat, seperti acara tujuh bulanan kehamilan, rujak wajib ada.

Seiring perkembangan zaman, rujak juga mengalami perkembangan dan modifikasi. Tetapi jika ingin mencicipi rujak yang benar-benar tradisional, di Kabupaten Kebumen tepatnya di daerah Gombong, terdapat penjual rujak tumbuk yang patut Anda coba.

Salah satu penjual rujak tumbuk tersebut adalah Slamet Glonto. Dengan menggunakan gerobak sederhana, setiap harinya pria asli Gombong tersebut berjualan rujak di depan Rumah Sakit Palang Biru yang berada di Jalan Kartini Gombong.

Yang membuat rujak ini spesial adalah beberapa bahan baku pembuatannya sudah tidak banyak yang menggunakan, seperti pace atau mengkudu dan pisang batu.

"Karena bahan bakunya yang sudah cukup sulit ditemukan, saat ini di Gombong tinggal dua orang yang berjualan rujak pace," jelas Slamet.

Lebih lanjut dia mengatakan rujak yang menggunakan pace dan pisang batu sebagai bahan bakunya sudah dikenal masyarakat Gombong secara turun temurun.

Pada rujak racikan Slamet, pisang batu, pace, dicampur dengan beberapa bahan lainnya seperti cabai rawit, terasi, dan kacang tanah goreng. Bahan bumbu tersebut ditumbuk menggunakan lumpang kayu yang berukuran tidak terlalu besar dan alu dari batu.

Setelah bumbu dirasa cukup halus, beragam jenis buah-buahan seperti jambu air, timun, pepaya, bengkoang, pakel, nanas, belimbing, kedondong, dimasukan ke dalam alu dan ditumbuk bersama bumbunya. Penggunaan pace dan pisang batu menghasilkan rasa yang segar dan sedikit sepet, serta berair sehingga menambah kaya rasa rujak yang satu ini. Bagi para penggemar rujak dijamin akan ketagihan setelah mencicipi rujak yang satu ini.

Selain rasanya yang istimewa, rujak satu ini juga kaya manfaat. Pace banyak dikenal karena kemampuanya menurunkan darah tinggi dan mencegah kanker. Sedang pisang batu mampu mengatasi diare.

"Selama ini pelanggan saya belum ada yang mengeluh diare setelah makan rujak ini meskipun pesannya sangat pedas. Ini karena penggunaan pisang batu," jelas Slamet.

Tidak hanya menyediakan rujak, Slamet juga menyediakan lutis. Berbeda dengan rujak, untuk lutis beragam buah yang digunakan tidak ditumbuk melainkan disajikan bersama bumbu yang sama dengan lutis.

Setiap harinya rujak ini mulai melayani pembeli dari jam 11.00 hingga 16.30. Sedang untuk harga, seporsi rujak ataupun lotis dapat anda nikmati hanya dengan Rp 8.000.

(ivn/kom)