Komisi II DPR: Tingkat Kesejahteraan Masyarakat di Daerah Perbatasan Masih Rendah

Komisi II DPR: Tingkat Kesejahteraan Masyarakat di Daerah Perbatasan Masih Rendah

RIAUMANDIRI.CO - Wakil Ketua Komisi II DPR RI Syamsurizal mempertanyakan tingkat kesejahteraan dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah-daerah perbatasan yang masih di bawah garis kemiskinan.

Tingkat gini rasio secara nasional sebesar 0,375 sampai 0,378 yang dianggap masih cukup tinggi dan memperlihatkan belum terjadinya pemerataan pendapatan masing-masing penduduk. 

 "Apalagi menurut pendapat kami gini rasio itu akan semakin tinggi dan jauh dari titik nol pada daerah-daerah perbatasan. Hal ini disebabkan karena kurangnya pembangunan infrastruktur yang ada di pedesaan, tingkat pembangunan manusianya. Bahkan secara nasional saja masih pada angka kurang lebih 73 persen, jauh dari seratus persen. Artinya IPM masih jauh,” papar Syamsurizal saat Rapat kerja Komisi II DPR RI dengan Menteri Dalam Negeri dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), di Gedung Nusantara, Senayan, Selasa (7/6/2022).

Syamsurizal memaparkan, tingkat kemiskinan nasional masih sangat tinggi walaupun masih sudah ada UU Cipta Kerja Undang-Undang No 11 tahun 2020. Namun sepertinya investasi yang diharapkan belum menggembirakan untuk dalam negeri. 

Bahkan untuk tingkat pengangguran sekarang di situ disebutkan 5,3 persen sampai 6 persen. Ini juga masih sangat tinggi.

"Maka ketika itu dibacakan di depan kami, saya dapat memastikan itu bahwa tingkat kesetaraan masyarakat pedesaan masih belum menggembirakan, dan belum terangkat," ungkap Syamsurizal. 

 Untuk itu ia bilang, perlu solusinya investasi daerah, khususnya daerah pedesaan. Serta upaya untuk meningkatkan IPM ini tidak di kota saja, tapi juga di daerah pedesaan supaya bisa membangun sekolah-sekolah yang lebih baik kualitasnya di daerah-daerah pedesaan, dan yang paling penting adalah peningkatan kualitas infrastruktur pedesaan. 

"Karena ketika di Aceh terjadi tsunami besar dan beberapa negara besar menyimpulkan bahwa ketika itu kenapa Indonesia miskin masyarakatnya, karena infrastruktur pedesaan yang belum terbangun secara optimal,” tambah Syamsurizal.

Politisi dari fraksi PPP ini juga berharap kondisi faktual tentang pedesaan dan kehidupan daerah perbatasan itu perlu dijadikan rujukan saat penyusunan anggaran tahun 2023 mendatang. Karena sejatinya masih ada waktu untuk dilakukan pembahasan anggaran baik dalam rapat konsinyasi atau lainnya. (*)



Tags DPR RI