Ketua Kohati Pekanbaru: Perempuan Harus Mempertegas Identitas Diri

Ahad, 23 Desember 2018 - 23:33 WIB

RIAUMANDIRI.CO, BIREUN - Penataran Korps HMI-wati (Kohati) Cabang Bireun, Aceh resmi dibuka oleh Sekretaris Umum HMI Cabang Bireun Abdul Hadi mewakili Ketum cabang, Sabtu (22/12/2018). Kegaitan bertema "Menciptakan Kader HMI-wati Demi Terbentuknya Generasi yang Disiplin dan Bertanggung Jawab dan Berkarakter" itu diikuti 27 peserta.

Master Of Training yang dihadirkan yaitu Ketua Kohati Pekanbaru, Riau Delpi Susanti bersama rekannya Widia Sari.

Delpi mengatakan, sejak didirikan pada 17 September 1966, Kohati sebagai organisasi di bawah naungan HMI, sudah memegang peranan penting dalam pembentukan karakter dan pergerakan perempuan di Indonesia.

"Peran Kohati tidak hanya pada internal organisasi, namun juga pada masyarakat secara luas. Sebagai lembaga keperempuanan, Kohati memiliki tujuan menjadikan perempuan sebagai sosok mar’atussholeha, untuk turut melakukan transfomasi sosial dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT," kata Delpi.

Menurut survei, kata Delpi, lebih dari 50 persen jumlah penduduk Indonesia adalah perempuan. Dalam kondisi ini, dapat dibayangkan betapa berpotensinya perempuan dalam percaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. 

"Namun sudah sejauh mana peran perempuan dalam memberi pengaruh terhadap pembangunan masyarakat dan modernisasi dengan profilnya yang khas dapat berterima di pihak lain," tuturnya.

"Keragu-raguan yang sudah melanda sebagian perempuan mencoba mengajak kita semua untuk kembali mengungkap dan menelaah apa yang telah dimiliki perempuan dalam membangun diri, keluarga, dan bangsanya," sambungnya.

Delpi mengatakan, perempuah harus mempertegas identitas diri, dari, untuk dan ke mana, serta siapa, apa, dan bagaimana sosok perempuan dalam kaitannya dengan hak dan kewajibannya dalam keluarga rumah tangga, dan masyarakat. Sehingga tahu memposisikan diri sebagai anak, istri atau pun sebagai seorang ibu yang merupakan titik tolak aspek pembentukan karakter perempuan masa depan yang mampu menjawab tuntutan dasar pembangunan bangsa dalam mewujudkan tatanan masyarakat ideal.

"Cita-cita mulia dalam melahirkan, menghimpun dan membentuk calon intelektual muslimah merupakan sumber insani pembangunan yang dapat memberikan peranannya dalam pembangunan bangsa Indonesia yang sangat besar, terutama dalam menciptakan peradaban manusia yang beradab, sehingga aspek pembentukan karakter kader Kohati," tuturnya.

Melalui citra diri Kohati diharapkan kader Kohati dapat menginternalisasi identitas diri tersebut sebagai sosok perempuan islam yang dapat menentukan langkah di mana pun ia berada secara pasti, dengan melihat dan membenahi semaksimal mungkin tubuh organisasinya baik mengenai program-program yang disusun secara nasional maupun regional yang menyentuh langsung masyarakat. Dengan begitu seseorang yang terhimpun di dalamnya benar-benar dapat mengisi pembangunan ini dalam arti yang sebenar-benarnya.

Perempuan, kader Kohati khususnya harus mampu memainkan peran sehingga memberi warna dan bukan diwarnai. Sebagaimana Individu yang mempunyai jiwa untuk diisi nutrisinya begitu pulalah tatanan masyarakat yang mempunyai jiwa dan rohani sehingga inilah yang membedakan kaum satu dengan kaum lainnya, karena Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri," kata Desti. (rilis)

Editor: Rico Mardianto

Terkini

Terpopuler